Thursday, November 17, 2011

Daun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup. Untuk itu mahasiswa yang mempelajari ilmu sains diharapkan bisa meneliti morfologi dari pada berbagai jenis tumbuhan. Dari latar belakang tersebut, mahasiswa diharapkan bisa membahas tentang morfologi dari berbagai macam daun tumbuhan yang telah diamati pada saat melakukan praktikum di dalam laboratorium. Daun (Folium) merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat hanya pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuhan. Daun mempunyai helaian daun (lamina) yaitu bagian yang melebar yang bertaut pada batang oleh sebuah tangkai daun (petiolus). Buku-buku (nodus) adalah bagian batang tempat duduk atau melekatnya daun. Tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun merupakan tempat proses fotosintesis sehingga pada umumnya pipih dan melebar. Daun lengkap terdiri dari bagian pelepah daun, tangkai daun dan helai daun. Jika tidak mempunyai salah satu atau kedua bagiantersebut maka di sebut daun tidak lengkap. Umumnya tumbuhan berdaun tidak lengkap, dapat berupih, bertangkai atau duduk langsung pada batang.
Bentuk daun beraneka ragam sehingga sering digunakan untuk mengenali jenis tumbuhan. Bentuk umum daun ditentukan berdasarkan letak bagian daun yang terlebar, perbandingan lebar dengan panjang helai daun, dan pertemuan antara helai daun dengan tangkai daun, bentuk pangkal, ujung dan tepi daun. Keragaman daun juga dapat dilihat pada susunan pertulangan daun, ketebalan helai daun, dan warna serta bagian permuaannya.


B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui dan mengenal bagian-bagian daun serta membedakan daun lengkap dan tidak lengkap


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Jagung (Zea mays L.)
a. Morfologi
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang, merupakan bangun pita (ligalatus), ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer), antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun, permukaan daun licin dan ada yang berambut (anonym, 2010).

b. Klasifikasi
Menurut Rukmana ( 2007 ) sistematika tanaman jagung adalah :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Graminae
Famili : Graminaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.

c. Ekologi
Jagung merupakan tanaman daerah beriklim hangat dengan kelembaban mencukupi. Daerah penyebaran di daerah tropis dan subtropis. Jagung kurang cocok ditanam pada iklim agak kering atau di ekuator. Pertumbuhan terbaik jagung yaitu tumbuh di daerah dengan suhu khusus antara 21-30°C pada saat perbungaan jantan. Suhu minimum untuk perkecambahan adalah 10°C. Tanaman ini memerlukan temperatur harian rata-rata sekurang-kurangnya 20°C untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman ini pada umumnya tumbuh di daerah antara 50°LU hingga 40°LS dan pada ketinggian hingga 3000 m di daerah equator. Pada garis lintang yang lebih tinggi, diatas 58°LU. Jagung akan sangat sensitif pada tekanan kelembaban pada saat pertumbuhan bunga jantan dan penyerbukan. Pada waktu penanaman juga memerlukan kondisi kelembaban optimum. Di daerah tropis, pertumbuhan terbaik dengan curah hujan 600-900 mm pada saat musim pertumbuhan. Jagung dapat tumbuh pada beragam jenis tanah, tetapi suks pada yang memiliki drainasi baik, peredaran udara baik, di dalam tanah memiliki senyawa organik yang cukup dan aliran nutrisi yang cukup. Jagung dapat ditanam pada tanah ber pH antara 5-8, tapi optimal pada 5.5-7. Jagung termasuk ke dalam kelompok tanaman yang tidak tahan pada kadar garam

d. Nilai medis
Penelitian Sukensri Hardianto, 1989. Fakultas Farmasi, UGM. Pembimbing: Dr. Ediati S., Apt. dan DR. Sasmito. telah melakukan penelitian pengaruh infus tongkol Jagung muda terhadap daya larut batu ginjal kalsium secara in vitro. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata: 1. Adanya pengaruh antara kadar infus dan kadar kalium vang teriarut dalam larutan. 2. Adanva pengaruh antara kadar infus dan kadar Y{alsium vang terlarut dalam larutan. 3. Batu ginjal kalsium mempunyai daya larut paling besar dalam infus tongkol Jagung muda dengan kadar 5%. Pada kadar infus yang lebih tinggi daya larutnya mengalami penurunan, sehingga rambut jagung dapat menyembuhkan batu ginjal, batu empedu dan busung perut, (hardianto 1989)

e. Nilai komersial
Selain sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan, saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan.

B. Jarak merah ( Jatropha gossypifolia)
a. Morfologi
Jarak merah (Jatropha gossypifolia) tergolong kedalam kelompok tanaman berdaun tidak lengkap. Hal ini karena pada bagian daunnya hanya memiliki petiolus (tangkai daun) dan lamina (helaian daun), tanpa memiliki vagina (pelepah daun).
Circumscriptio atau bangun daunnya berbentuk orbicularis (bulat). Dikatakan memiliki bangun daun berbentuk orbicularis karena pada perbandingan panjang dan lebar, jarak merah yaitu 1 : 1.
Memiliki intervenium (daging daun) yaitu tipis lunak (herbaceus). Pada bagian margo folii, daunnya bergerigi (serratus). Pada bagian apex folii, daunnya meruncing (acuminatus). Karena pada titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ujung daun yang berbentuk runcing (acutus), dan ujung daun nampak sempit memanjang dan runcing.
Bagian basis foliinya berlekuk (emarginatus), hal ini ditemukan pada daun-daun bangun jantung, ginjal, dan anak panah. Permukaan daunnya yaitu gundul (gleber). Susunan tulang-tulang daun (nervatio) dari jarak merah adalah menjari (palminervis). Dikatakan menjari, karena dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan jari-jari seperti tangan, (anonim2, 2011).

b. Klasifikasi
Klasifikasi jarak merah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Devisi : Magnoliophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Euphobiales
Family : Euphorbiaceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha gossypifolia L.

c. Ekologi
Tumbuhan jarak merah merupakan tanaman semak berkayu yang ditemukan di daerah tropis dan dikenal sangat tahan dengan kekeringan, serta mudah dikembangbiakkan dengan cara stek. Tumbuhan ini mudah beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya. Dapat tumbuh pada tanah yang subur tetapi memiliki drainase atau penyaluran air yang baik, tidak tergenang, dan memiliki pH tanah 5,0 sampai 6,5. Tumbuhan jarak dapat tumbuh pada ketinggian sekitar 20 m dari permukaan laut dan merupakan tanaman tahunan, dapat ditemukan pada daerah curah hujan 750-2000 mm curah tahunan, tumbuh pada kelembaban kejenuhan basah tinggi dan hidup pada temperatur 20º-30ºC sepanjang hidupnya,

d. Nilai medis
Beberapa kajian farmakologi telah dilakukan terhadap jathropa gossypifolia diantaranya ialah pengujian ekstrak daun terhadap 10 jenis mikroorganisme (diantaranya adalah Candida albicans, Staphylococcus aureus, Bacillus subtillis. Ekstrak etanol dari jarak merah dapat mengakibatkan efekvaksorelaksan terhadap tikus dalam kedaan normal. Penelitian yang dilakukan oleh Ravinadrath et. al terhadap jatrofenon yaitu senyawa yang berhasil diisolasi dari akar jarak merah menunjukkan aktivitas anti mikroba terhadap Staphylococcus aureus yang daya kerjanya sebanding dengan Penicilin G. Beberapa senyawa telah berhasil di isolasi dari jarak merah yaitu alkoloi jatroiden, isogadin, cleomiscosin, propasin, clilatrione, jatrofenon, jatrofolo A-B, fraxetin, cycologosine A-B dan 18 senyawa ekstrak lipid dari daun.

e. Nilai komersial
Pemanfaatan minyak dari tanaman jarak sebagai bahan bakar alternatif ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak peghe atau penggunaan cadangan devisa. (okaya, 2007)

C. Kamboja (Plumeria acuminate)
a. Morfologi
Kamboja merupakan daun yang tidak lengkap karena pada bagian daunnya hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina) tanpa memiliki upih daun (vagina).
Bangun daun (circumscriptio) berbentuk sudip (spathulatus), dikatakan sudip karena seperti bangun bulat telur, tepi daun (margo) rata (integer), ujung daun (apex) tumpul (obtusus) karena pada tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hingga terbentuk sudut yang tumpul (lebih besar dari 900 )
Pada bagian pangkal (basis) runcing (acutus), pangkal daun ini biasanya terdapat pada daun bangun memanjang, lanset dan belah ketupat, permukaan daun licin suram (laevis apacus), susunan tulang daun menyirip, dikatakan menyirip karena mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan tangkai daun, dari ibu tulang daun ini ke samping keluar tulang-tulang cabang sehingga mengingatkan kita pada sirip-sirip pada ikan, (anonim2 2010).

b. Klasifikasi
Berikut ini klasifikasi kamboja (plumeria acuminate) :
Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Opocynales
Family : Apocyanaceae
Genus : Plumeria
Spesies : Plumeria acuminate Ait.

c. Ekologi
Tanaman kamboja mempunyai pohon dengan tinggi batang 1,5-6 m, bengkok, dan mengandung getah. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman, dan umumnya di daerah pekuburan, atau tumbuh secara liar. Tumbuh di daerah dataran rendah 1-700 m di atas permukaan laut dan daerah penyebarannya ke seluruh daerah tropis

d. Nilai medis
Tanaman kamboja (Plumeria acuminate) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol dan asam serotinat, plumerid
merupakan suatu zat pahit beracun. Menurut Sastroamidjojo (1967). kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate, mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol, selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin, yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri, selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool . Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol (Dalimartha, 1999 ; Prihandono, 1996).

e. Nilai komersial
Digunakan sebagai tanaman hias, harganya bisa ratusan ribu, bahkan jutaan per pot. Apalagi bila ia memiliki bonggol indah yang meliuk, menekuk, membulat, dan membengkak, harganya bisa mencapai Rp 2 – 3 juta per pot.


D. Biduri (Calotropis gigantea)
a. Morfologi
Daun biduri merupakan daun tidak lengkap, bertangkai pendek, letaknya berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur (ovatus) atau bulat panjang, ujung (apex) tumpul (obtusus), pangkal (basis) berbentuk jantung, tepi (margo) rata (integer), pertulangan (nerfatio) menyirip (penninerfis), panjangnya 8-30 cm, lebar 14-15 cm, berwarna hijau muda. (anonim2, 2009)

b. Klasifikasi
Klasifikasi biduri sebagai berikut :
Kingdom : Plantea
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Family : Asclepiadaceae
Genus : Calotropis
Spesies : Calotropis gigantea

c. Ekologi
Biduri dapat tumbuh dari biji di lahan yang relatif kering seperti padang rumput kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir. Tanaman perenial ini mempunyai persebaran di wilayah tropis dan subtropis, di benua Asia dan Afrika (Ahmed et all, 2005)

d. Nilai medis
Dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan tradisional. Bagian kulit akar bermanfaat memacu kerja enzim pencernaan, peluruh kencing (diuretik), peluruh keringat (diaforetik), dan perangsang muntah (emetik). Kulit batang yang diolah dahulu berguna untuk perangsang muntah, sedang bunganya berkhasiat tonik, serta menambah nafsu makan (stomakik). Daunnya berkhasiat rubifisien dan menghilangkan gatal. Getah yang disekresikan bersifat racun, namun berkhasiat sebagai obat pencahar. Hampir semua organ tubuh tanaman mengandung senyawa-senyawa kimia bermanfaat. Secara umum, akar mengandung saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin, dan harsa. Organ daun mengandung bahan aktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, tanin, dan kalsium oksalat. Kandungan pada batang berupa tanin, saponin, dan kalsium oksalat. Getah yang dihasilkan juga memuat senyawa racun jantung yang menyerupai digitalis (Kongkow, 2007).

e. Nilai komersial
Dapat digunakan makanan jengkrik. Untuk peternak jengkrik, membeli Rp 1.500,00/bungkus serta dan juga digunakan oleh sebagian industry obat-obatan karena terdapat zat-zat yang terkandung dalam biduri yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit.

E. Sirih
a. Morfologi
Helaian daun berbentuk bundar telur lonjong, pada bagian pangkal
berbentuk jantung atau agak bundar, tulang daun bagian bawah gundul atau berambut sangat pendek, daging daun tebal , berwarna putih, panjang 5 cm sampai 18 cm, lebar 2,5 cm sampai 10,5 cm, (Ditjen POM, 1995).

b. Klasifikasi
Sistematika sirih ( Heyne, 1987) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnolyophyta
Kelas : Dycotyledoneae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper betle L.

c. Ekologi
Sirih ditemukan dibagian timur pantai Afrika, disekitar pulau Zanzibar, daerah sekitar sungai indus ke timur menelusuri sungai Yang Tse Kiang, kepulauan Bonin, kepulauan Fiji dan kepulauan Indonesia. Sirih tersebar di Nusantara dalam skala yang tidak terlalu luas. Di Jawa tumbuh liar di hutan jati atau hutan hujan sampai ketinggian 300m diatas permukaan laut. Unutk memperoleh pertumbuhan yang baik diperlukan tanah yang kaya akan humus, subur dan pengairan yang baik. Sirih hidup subur dengan ditanam di atas tanah gembur yang tidak terlalu lembab dan memerlukan cuaca tropika dengan air yang mencukupi. Daun Sirih (Piper Betle) sejak lama dikenal oleh nenek moyang kita sebagai daun multi khasiat

d. Nilai medis
Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betlephenol), seskuiterpen, pati, diastase, gula dan zat semak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan pendarahan, menyembuhkan luka pada kulit dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan pendarahan.

e. Nilai komersial
Daun sirih banyak digunakan dalam bahan obat-obatan seperti sabun sirih yang banyak di jual di pasaran dengan harga 12.000/botol


BAB III
METODOLOGI
A. Waktu dan tempat
Adapun waktu dan tempat praktek morfologi tumbuhan yaitu :
Hari / tanggal : Sabtu, 26 Maret 2011
Waktu : 01.00 – Selesai
Tempat : Laboratorium biodiversity FMIPA UNTAD

B. Alat dan bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Buku gambar
2. Alat tulis menulis
3. Daun Caladium bicolor
4. Daun Saccharum officinarum L.
5. Daun Acasia aurantifolia
6. Daun Musa paradiasiaca
7. Daun Calotropis gigantean
8. Daun Zea mays
9. Daun Plumeria acuminate
10. Daun Euphorbia hirta
11. Daun Gnetum gnemon
12. Daun Anacardium occidentale
13. Daun Piper bettle
14. Daun Jathropa gisififolia
15. Daun Ipomea pes-caprae





C. Cara kerja
Adapun cara kerja selama melakukan pengamatan pada tumbuhan lengkap dan tidak lengkap yaitu :
1. Menulis spesies dan family tumbuhan
2. Menggambar dan memberi keterangan bagian-bagiannya yaitu helaian daun (lamina), tangkai daun (petiolus) dan upih daun (vagina)
3. Menentukan circumscriptio, intervinum, margo, apex, basis, permukaan daun nervatio
4. Menentukun termasuk daun lengkap atau daun tidak lengkap masing-masing tumbuhan tersebut.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
No Gambar Keterangan
1 Nama : jagung
Spesies : Zea mays
Family : Poaceae
Circumscripto : bangun pita (ligulatus)
Margo : rata (integer)
Apex : runcing (acutus)
Basis : runcing (acutus)
Intervenium : tipis seperti Kertas(papyraceus)
Nervatio : sejajar (rectinervis)
Permukaan daun : berbulu halus dan rapat (villosus)

2 Nama : jarak merah
Spesies : Jathropa gisififolia
Family : Euphorbiaceae
Circumscriptio : bulat (orbicularis)
Intervenium : tipis seperti Selaput (membranaceus)
Margo : bergerigi (serratus)
Apex : meruncing (acuminatus)
Basis : berlekuk (emarginatus)
Permukaan daun : licin suram(laevis opacus)
Nervatio : menjari (palminervis)

3 Nama : kamboja
Spesies : Plumeria acuminate
Family : Apocyanaceae
Circumscriptio : sudip(spathulatus)
Intervenium : seperti kulit (cariaceus)
Margo : rata (integer)
Apex : tumpul (obtusus)
Basis : runcing (acutus)
Permukaan daun : licin suram (laevis opacus)
Nervatio : menyirip (penninervis)

4 Nama : biduri
Spesies : Calotropis gigantea
Family : Asclepiadaceae
Circumscripto : sudip (spathulatus)
Intervenium : tipis lunak (herbaceus)
Margo : rata (integer)
Apex : tumpul (obtusus)
Basis : berlekuk (emarginatus)
Permukaan daun : licin berselaput lilin( laevis pruinosus)
Nurvatio : menyirip(penninervis)

5 Nama : sirih
Spesies : Piper bettle
Family : Piperaceae
Circumscriptio : bulat telur (ovatus)
Intervenium : tipis lunak (herbaceus)
Margo : rata (integer)
Apex : meruncing(acuminatus)
Basis : runcing (acutus)
Permukaan daun : licin mengki(leavis netidus)
Nervatio : melengkung(cervinervis)

B. Pembahasan
a. Jagung (Zea mays L.)
Jagung merupakan tumbuhan tidak lengkap karena hanya terdiri dari helaian daun dan upih daun. Sifat-sifat daun jagung dilihat dari bangunnya (circumscriptio) bangun daun pita (ligulatus) karena serupa dengan bangun garis, tetapi lebih panjang lagi, daging daun (intervenium) tipis seperti kertas karena tipis tetapi cukup tegar, tepi daun (margo) rata (integer) karena apa bila di rabah pada pinggirnya rata, tidak bergerigi, ujung daun (apex) runcing (acutus) karena ujung daun memperlihatkan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju keatas dan pertemuannya pad puncak daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil dari 900 ), ujung daun yang runcing lain kita dapat pada daun-daun bangun : bulat, lanset, segitiga, delta, belah ketupat dll. Pangkal (basis) runcing karena daunnya memanjang, permukaan daun berbulu halus dan rapat karena pada saat diraba terasa seperti laken atau beludru, pertulangan daun (nervatio) sejajar (rectinervis), pertulangan ini umumnya dapat di lihat pada bangun daun pita dan juga daun jagung mempunyai satu tulang ditengah yang besar membusur ke daun, sedang tulang-tulang lainnya tampak lebih kecil dan tampak terlihat semua mempunyai arah yang sejajar dengan satu tulang yang di tengah tadi.
Berdasarkan literatur sebagai pembanding dalam hasil pengamatan mulai dari bangun daun (lamina), daging daun (intervenium), tepi daun (margo), ujung daun (apex), pangkal daun (basis), permukaan daun dan sussunan tulang daun memiliki ciri-ciri yang sama

b. Jarak merah (Jathropa gossififolia)
Jarak merah merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya terdiri dari helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus), jarak merah memiliki ciri-ciri bangun daunnya (circumscription) bulat (orbicularis) karena bangun daun jarak memilik ciri yaitu panjang : lebar 1:1 selain itu dalam menentukan bangun daun kita tidak boleh terpengaruh oleh adanya torehan atau lekukan pada tepi daun,melainkan harus di bayangkan seakan-akan torehan tadi tidak ada, daging daun (intervenium) tipis seperti seperti selaput, tepi daun (margo) bergerigi karena sesuai dengan tepi daun tersebut pada saat diamati sinus dan angulus sama lancipnya, ujung daun (apex) meruncing (acuminatus) karena sesuai dengan pengamatan kita ujungnya runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit, panjang dan runcing, pangkal daun (basis) berlekuk, permukaan daun licin suram, susunan tulang daunnya (nervatio) menjari (palminervis) karenatangkai daun keluar beberapa tangkai memencar memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan.
Berdasarkan literatur yang digunakan untuk sebagai pembanding dalam hasil pengamatan ciri-ciri daun jarak merah mulai dari bangun daun (circumscription), daging daun (intervenium), tepi daun (margo), ujung daun (apex), basis (pangkal daun), permukaan daun dan susunan tulang daun (nervatio) sama dengan literatur sebagai pembanding.

c. Kamboja (Plumeria acuminate)
Kamboja merupakan daun yang tidak lengkap karena tidak memiliki salah satu dari helaian daun, tangkai daun, dan upih daun, tetapi daun kamboja hanya memiliki helaian daun (lamina), tangkai daun (petiolus). Berdasarkan hasil pengamatan di laboratoriun lingkungan, ciri-ciri kamboja yaitu bangun daun (circumscriptio) sudip (spathulatus) karena seperti bangun bulat telur terbalik, tetapi bagian bawahnya memanjang, tepi daun (margo) rata (integer) karena pada saat di raba pada tepi daunnya tidak bergerigi. Ujung daunnya (apex) tumpul (obtutus) karena tepi daun semula masih agak jauh dari ibu tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hingga terbentuk sudut yang tumpul (lebih besar dari 900 ), daging daun (intervenium) seperti kulit (coraceus) karena helaian daun kaku dan tebal, pangkal daun (basis) runcing (acutus), permukaan daun licin suram. pertulangan daun (nervatio) karena mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal keujung, dan merupakan terusan tangkai daun. Dari ibu tulang ke samping keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya seperti sirip-sirip pada ikan.
Berdasarkan literatur yang digunakan untuk sebagai pembanding dalam hasil pengamatan ciri-ciri daun kamboja mulai dari bangun daun (circumscription), daging daun (intervenium), tepi daun (margo), ujung daun (apex), basis (pangkal daun), permukaan daun dan susunan tulang daun (nervatio) sama dengan literatur sebagai pembanding

d. Biduri (Calotropis gigantea)
Biduri merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri biduri yaitu helaian daun (circumscriptio) sudip (spathalatus) karena seperti bangun bulat telur terbalik, tetapi bagian bawahnya memanjang, daging daun ( intervenium) tipis lunak (herbaceus), tepi daun (margo) rata (integer) karena pada saat diraba pada pinggirnya tidak rata, ujung daun (apex) tumpul (obtusus) karena tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hingga membentuk sudut yang tumpul (lebih besar dari 900). Pangkal daun (basis) berlekuk (emarginatus) karena bentuknya berlekuk keatas seperti hati, permukaan daun licin berselaput lilin (laevis pruinosus), susunan pertulangan (nervatio) karena ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan.
Berdasarkan literatur yang digunakan untuk sebagai pembanding dalam hasil pengamatan ciri-ciri biduri mulai dari bangun daun (circumscription), daging daun (intervenium), tepi daun (margo), ujung daun (apex), basis (pangkal daun), permukaan daun dan susunan tulang daun (nervatio) sama dengan literatur sebagai pembanding

e. Sirih (Piper bettle)
Sirih merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri daun biduri yaitu bangun daun (circumscriptio) bulat telur (ovatus) karena dibagian yang terlebar dibawah helaian daun, daging daun (intervenium) tipis lunak, tepi daun (margo) integer (rata) karena pada tepinya pada saat diraba tidak kasar, ujung daun (apex) meruncing (acuminatus) karena pada ung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit panjang dan runcing, pangkal daun (basis) runcing (acutus), permukaan daun licin mengkilat, susunan tulang daun (nervatio) karena mempunyai beberapa tulang yang besar, satu ditengah, yaitu paling besar sedangkan yang lainnya mengikuti jalannya tepi daun. Jadi semula memncar kemudian kembali menuju kesatu arah yaitu keujung daun, hingga selain tulang yang ditengah semua tulang-tulangnya kelihatan melengkung.
Berdasarkan literatur yang digunakan untuk sebagai pembanding dalam hasil pengamatan ciri-ciri daun sirih mulai dari bangun daun (circumscription), daging daun (intervenium), tepi daun (margo), ujung daun (apex), basis (pangkal daun), permukaan daun dan susunan tulang daun (nervatio) sama dengan literatur sebagai pembanding


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum serta pembahasan diatas dapat di simpulkan :
1. Klasifikasi tumbuhan dapat dilakukan dengan melihat ciri dan sifat pada daun contohnya, bentuknya, ujungnya, pangkalnya, susunan tulang-tulangnya, tepinya ,daging daunnya, permukaan daunnya, arah anak tulang, bentuk tulang daun dan warna permukaan daun.
2. Berdasarkan bagiannya daun dibedakan atas daun lengkap dan daun tidak lengkap.
3. Setiap jenis memiliki tanaman memiliki struktur daun yang berbeda, sesuai kebutuhan.

B. Saran
Agar praktikum selanjutnya menjadi lebih baik, dibutuhkan kerja sama antara praktikan dengan asisten, serta praktikan fokus pada pratikumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Bambang, 2008, Piper bettle, http://bambang.blogspot.com/2008/11/tumbuhan;piper-bettle-l.htm.l Diakses pada Tanggal 28 Maret 2011 Pukul 20.00

Plantamor, 2010, Plumeria acuminate, (online) http://www.plantamor.com/index.php?plumeriaacuminate=345.
Diakses pada Tanggal 27 Maret 2011. 19.00

Plantamor, 2010, Jatropha gossyfifolia, (online) http://www.plantamor.com/index.php?jatrophagossyfifolia=343. Diakses pada Tanggal 27 Maret 2011. 21.00

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/01/uji-toksit-getah-tanaman-biduri.html
Diakses pada tanggal 27 Maret 2011 Pukuk 18.00

http://www.agrilands.net/read/full/agriwacana/tanaman/2010/12/02/morfologi-tanaman-jagung.html
Diakses pada tanggal 26 Maret 2011 pukul 17.00

Wednesday, November 16, 2011

Karbohidrat

KARBOHIDRAT
I.         Tujuan
1.      Menghitung, mengetahui randemen amilum yang terdapat pada umbi-umbian
2.      Untuk mengidentifikasi amilum yang diperoleh

II.      Latar Belakang
          Menurut (Tim Dosen Biokimia, 2011) karbohidrat adalah senyawa polimer dari monosakarida dengan rumus molekul Cn(H2O)n. Diialam karbohidrat merupakan hasil sintesa dari molekul CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil) yang dikenal dengan proses fotosintesa. Karbohidrat ini merupakan sumber energi atau makronutrien utama bagi makhluk hidup. Secara alami ada tiga bentuk senyawa karbohidrat yang terpenting seperti :
1.      Amilum atau pati yang pada umumnya terdapat pada umbi-umbian dan biji-bijian
2.      Sellosa terdapat pada daun dan batang tumbuhan
3.      Glikogen terdapat pada otot hewan
          Senyawa amilum ataupun pati dapat dipisahkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan metode ekstraksi menggunakan air yang selanjutnya dilakukan pengendapan dengan didiamkan. Granula-granula pati dalam air akan membentuk suspensi yang selanjutnya akan terpisah dari air pada selang waktu. Proses pengendapan pati ini sangat tergantung pada sifat dan struktur molekul pati yang terdapat dalam suatu bahan (Tim Dosen Biokimia, 2011)
          Karbohidrat dibagi menjadi monosakarida, disakarida, trisakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah gula-gula sederhana yang mengandung lima atau enam atom karbon dalam molekulnya yang larut dalam air dengan rumus C6H12O6. Pada hewan zat tersebut terutama terdapat dalam darah. Pada konsentrasi tertentu zat ini sangat vital untuk kehidupan. Disakarida adalah karbohidrat yang mengandung dua molekul sederhana, mempunyai formula umum C12H22O11. Disakarida yang sangat penting dalam sukrosa, maltosa dan laktosa. Trisakarida terdiri dari 3 molekul monosakarida yaitu galaktosa, fruktosa, dan glukosa. Raffinosa adalah suatu trisakarida yang terdapat dalam rumus kimia umum (C6H10O5)n. Zat tersebut  mengandung banyak molekul gula-gula sederhana kedua golongan utama dari polisakarida adalah pati dan sellusa.
          Pengujian  karbohidrat dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu uji molisch, uji benedict, uji berfoed, uji fermentasi, uji sellwanof, uji osazom, uji tauber dan uji iodium. Uji molisch digunakan untuk menentukan karbohidrat secara umum. Uji benedict digunakan untuk menentukan gula pereduksi dalam karbohidrat . Uji berfoed digunakan untuk mengidentifikasi antara monosakarida disakarida dan polisakarida. Uji saliwanof digunakan untuk menentukan karbohidrat jenis laktosa. Uji fermentasi yang menggunakan yang menggunakan ragi dapat mencerna dan merubah karbohidrat menjadi etil alcohol dan gas karbondioksida. Uji osazon digunakan untuk mengamati perbedaan spesifik bagi tiap karbohidrat melalui penampang endapan yang dihasilkannya. Pada uji iodium, hanya patilah yang dapt membentuk senayawa kompleks berwarna biru dengan iodium (Anonim, 2011).

III.   Metodologi
3.1.   Alat dan Bahan
-          Alat
1.      Tabung reaksi                             10.  Blender
2.      Batang pengaduk                        11. Gelas ukur
3.      Oven
4.      Parutan
5.      Kaca arloji
6.      Gelas kimia
7.      Hot plate
8.      Lumpang dan mortir
9.      Pipet tetes

-          Bahan
1.      Kain saring
2.      Kentan
3.      Ubi jalar
4.      Larutan iodium 1%
5.      Aqdes
6.      Jagung

3.2.   Prosedur Kerja
a.      Pemisahan amilum (pati)
1.      Menimbang 125 gram yang telah dihancurkan dengan parutan
2.      Bahan yang telah hancur dimasukkan kedalam gelas kimia 500 ml dan homogenesis dengan mengaduk secara baik selanjutnya disaring dengan kain saring
3.      Filtrat yang diperoleh dari hasil penyaringan didiamkan untuk beberapa waktu sampai patinya mengendap
4.      Memisahkan endapan dan filtrate dengan cara dekantasi
5.      Endapan yang diperoleh ditambahkan lagi dengan air dan diaduk, setelah itu didekantasi lagi sebanyak 3 kali
6.      Memindahkan endapan pada kaca arloji yang sebelumnya diketahui beratnya
7.      Endapan yang terdapat pada kaca arloji dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC sampai menjadi kering (tidak melengket dijari)
8.      Menimbang kaca arloji dan menghitung randemen dari pati yang diperoleh
9.      Menghitung randemen dengan rumus
% Randemen = (c-b)a x 100 %
a = Berat sampel dalam bahan
b = Berat kaca arloji
c = Berat kaca arloji berisi endapan

b.      Uji Amilum
1.      Mengambil sedikit endapan yang diperoleh pada percobaan 1 memasukkan kedalam tabung reaksi lalu menambahkan dengan 2 ml aqades.
2.      Menambahkan larutan iodium 1% dikocok dan diamati perubahan yang terjadi

IV.   Hasil Pengamatan
a.       Pemisahan amilum (pati)
No
Sampel
Berat kaca arloji
Berat kaca arloji kosong + endapan
1
2
3
4
Ubi kayu
Kentang
Jagung
Sagu
18,4 gr
18,4 gr
18,4 gr
18,4 gr
23,88 gr
28,9 gr
26,7 gr
25,9gr

b.      Uji Amilum
No
Sampel
Warna
Warna setelah penambahan larutan iodium
1
2
3
4
Ubi Kayu
Kentang
Jagung
Sagu
Putih
Coklat
Kuning
Putih keruh
Biru tua
Ungu
Ungu
Ungu


V.      Analisa Data
Rumus :
              % Rendemen = (c-b)a x 100 %
Dimana
a = Berat sampel dalam bahan
b = Berat kaca arloji kosong
c = Berat kaca arloji berisi endapan
1.      Ubi kayu
% Rendemen = (c-b)a  x 100
                       = 23,8 gr x 18,4 gr125 gr x 100
                       = 5,4 gr125 g��  x 100 = 4,32 %
2.      Kentang
% Rendemen = (c-b)a  x 100
                       = 28,9 gr x 18,4 gr125 gr x 100
                       = 10,5 gr125 gr  x 100 = 8,4 %
3.      Jagung
% Rendemen = (c-b)a  x 100
                       = 26,7 gr x 18,4 gr125 gr x 100
                       = 8,3 gr125 gr  x 100 = 6,64 %
4.      Sagu
% Rendemen = (c-b)a  x 100
                       = 25,9 gr x 18,4 gr125 gr x 100
                       = 7,1 gr125 gr  x 100 = 5,68 %
VI.   Pembahasan
          Karbohidrat adalah senyawa polihidrasi aldehid yang merupakan polimer dari monosakarida dengan rumus molekun Cn(H2O)n. Dialam karbohidrat merupakan hasil sintesa dari molekul CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil) yang dikenal dengan proses foto sintesa.
         Pada perlakuan ini semua bahan dikupas, dihancurkan kemudian ditimbang 125 gr, tujuan dihancurkan bahan tersebut untuk memperluas bidang permukaan agar mudah dalam melakukan ekstraksi keempat bahan tersebut. Kemudian dari masing-masing bahan tersebut dimasukkan kedalam gelas kimi 500 ml dan ditambahkan dengan air 100 ml dan diaduk dengan baik. Hal ini bertujuan untuk bercampur dan larut dalam air karena air merupakan pelarut yangbaik bagi amilum sebab  amilum memiliki  gugus hidroksil yang berikatan dengan atom hydrogen air. Kemudian dilakukan proses dekantasi sebanyak dua kali yang berfungsi untuk memperoleh sari patiatau amilum dari masing-masing bahan. Endapan dari amilum yang diperoleh dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 105 oC untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat dalam masing bahan. Setelah kering endapan amilum tersebut dihitung persen rendemen dari masing-masing bahan.
          Berdasarkan hasil perhitungan dari persen rendemen amilum diperoleh bahwa rendemen amilum diperoleh bahwa persen rendemen pada ubi kayu 4,32%, kentang 8,4%, jagung 6,64% dan sagu 5,68%. Dari hasil perhitungan rendemen tersebut tidak sesuai dengan literatur, Menurut (Anonim, 2011) persen rendemen amilum yang pada ubi kayu ialah 55%, kentang 59,7%, jagung 59,5% dan sagu 59,8%. Perbedaan rendemen amilum yang diperoleh dengan literature karena ketidak ketelitian.
          Pada percobaan ini juga dilakukan uji amilum yang menggunakan iodium 1 % dari masing-masing bahan tersebut ditambahkan iodium 1 % sehingga diperoleh hasil ubi kayu yang awalnya putih menjadi biru tua, kentang yang awalnya coklat menjadi ungu, jagung yang awalnya kuning menjadi ungu dan sagu yang awalnya putih keruh menjadi ungu. Dari hasil perubahan warna tersebut sesuai dengan literature yang menyatakan bahwa amilum yang merupakan polisakarida terhidrolisis akan membentuk warna biru tua hingga ungu.

VII.Penutup
7.1.   Kesimpulan
          Dari hasil percobaan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Karbohidrat adalah senyawa polihidroksi aldehid yang merukan polimer monosakarida dengan rumus molekul Cn(H2O)n
2.      Jumlah rendemen amilum yang diperoleh adalah ubi kayu 4,32%, kentang 8,4%, jagung 6,64%, sagu 5,68%
3.      Prinsip identifikasi amilum yaitu dengan metode ekstraksi menggunakan air yang dilakukan dengan pengendapan didiamkan granula pati dalam air akan membentuk suspensi selanjutnya akan terpesah pada selang waktu tertentu.

7.2.   Saran
           Alat-alat praktek dalam laboratorium diperbanyak lagi, agar praktikum selanjutnya dapat berjalan lancer dan tertib.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. (http://en.wikepedia.org wiki Giemsa stain) diakses tanggal 6 oktober 2011
Respati. 1986. Dasar-dasar Ilmu Kimia. Jakarta: Aksara Baru
Tim Dosen Biokimia. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia. Universitas Tadulaku, palu