Thursday, August 30, 2012

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. Latar Belakang

    Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya membran plasma dari dinding sel pada sel tumbuhan. Plasmolisis terjadi jika sel tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis : tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Plasmolisis hanya terjadi pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam. Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau sel epidermal bawang yang memiliki pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas.

    Deplasmolisis merupakan kebalikan dari plasmolisis, yaitu menyatunya kembali membran plasma yang telah lepas dari dinding sel. Deplasmolisis terjadi jika sel tumbuhan diletakkan di larutan hipotonik, sel tumbuhan akan menyerap air dan juga tekanan turgor meningkat. Banyaknya air yang masuk ke dalam sel akan menyebabkan terjadinya deplasmolisis. Membran plasma akan mengembang sehingga akan melekat kembali pada dinding sel


     

  2. Tujuan

    Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu : Melihat terjadinya plasmolisa dan deplasmolisa pada sel tumbuhan.


     


     

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


 

    Menurut Tim Penyusun Penuntun Praktikum Anatomi Tumbuhan (2011), plasmolisa merupakan peristiwa terlepasnya membran sel dengan dinding sel akibat isi sel mengecil. Hal ini disebabkan oleh peristiwa osmose, dimana air dalam sel berdifusi keluar sel, akibat konsentrasi air lebih tinggi dalam sel daripada di luar sel itu sendiri. Ini mungkin terjadi bila sel tersebut direndam suatu larutan gula atau garam. Sedangkan peristiwa deplasmolisa adalah kebalikan dari peristiwa plasmolisa. Hal ini dimungkinkan apabila sel yang telah terplasmolisa direndam kembali ke dalam air.

Plasmolisis adalah kondisi dimana suatu sel tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik). Akibatnya cairan yang ada di dalam sel keluar dari sel, sehingga tekanan sel terus berkurang sampai di suatu titik dimana membran sel terlepas dari dinding sel. Plasmolisis dapat mudah diamati pada sel bawang merah ataupun daun Rhoe-discolor yang direndam pada larutan sukrose dengan konsentrasi tertentu.
Bagian yang diambil untuk diamati yakni pada selaput tipis yang biasanya ada diantara umbi bawang merah, atau pada sel selaput epidermis daun Rhoe-discolor, (Bambang, 2006).

Pergerakkan molekul air melalui membran semipermeable selalu dari larutan hipotonis menuju larutan hipertonis sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut kedua zat seimbang (isotonic). Pada saat sel diletakkan dalam air suling , konsentrasi zat terlarut dalam sel hipertonik karena adanya garam mineral, asam organik dan berbagai zat lain yang di kandung sel. Dengan demikian air akan terus mengalir ke dalam sel sehingga konsentrasi larutan di dalam sel dan di luar sel sama. Namun, membrane sel mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengembang sehingga sel tersebut tidak pecah. Pada sel tumbuhan hal ini dapat teratasi karena sel tumbuhan memiliki dinding sel yang menahan sel mengembang lebih lanjut, (Fiktor Ferdinand, 2007).

Pada saat air di dalam sitoplasma maksimum, sel akan mengurangi kandungan mineral garam dan zat-zat yang terdapat dalam sitoplasma. Hal ini membuat konsentrasi dalam zat terlarut diluar sel sama besar dibandingkan konsentrasi air di dalam sel. Pada sel Rhoeo discolor yang di tetesi air suling sel menjadi membengkak karena air masuk melalui osmosis. Akan tetapi, dindingnya yang lentur akan mengembang hanya sampai pada ukuran tertentu sebelum dinding ini mengerahkan tekanan balik pada sel yang melawan penyerapan air lebih lanjut. hal ini di sebabkan sel berada pada kondisi paling sehat dalam lingkungan hipotonik dimana kecenderungan untuk menyerap air secara terus-menerus akan diimbangi oleh dinding lentur yang mendorong sel, (Jane B. Reech, 2003).

Sel yang telah mengalami plasmolisis dapat kembali ke keadaan semula. Proses pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah deplasmolisis. Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hampir sama dengan plasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar, sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan semula, (Elsa, 2009).

Osmosis adalah gerakan suatu materi, misalnya air melintasi suatu selaput atau membran. Air selalu bergerak melewati membran ke arah sisi yang mangandung jumlah materi terlarut paling banyak dan kadar air paling sedikit. Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergera dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membrane tersebut telah mencapai keseimbangan. Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran. Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah osmosis. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indikator dari ada atau tidaknya osmosis yang terjadi, (Ernawati, 2006).



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

METODOLOGI


 

  1. Waktu dan Tempat

    Adapun waktu dan tempat pada praktikum Anatomi Tumbuhan ini dilaksanakan pada :

    Hari/Tanggal    : Sabtu, 12 November 2011

    Waktu        : Pukul 10.00 -12.30 WITA

    Tempat        : Laboratorium Biodiversity F-MIPA UNTAD


 

  1. Alat dan Bahan

    Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Plasmolisa yaitu:

    1. Alat
      1. Mikroskop
      2. Kaca objek dan penutup
      3. Silet
      4. Lap halus
      5. Pipet tetes
    2. Bahan
      1. Air
      2. Air gula 20 % dan 30 %
      3. KNO3
      4. H2SO4 / HCL
      5. KOH
      6. Rhoe discolor (adam hawa)


 


 

  1. Prosedur Kerja
    1. Mula-mula sel diperiksa dengan menggunakan media air, lalu menggambar sekumpulan sel
    2. Mengganti media air dengan suatu plasmolitikum (air gula 20 %), periksa dan menggambar sekumpulan sel
    3. Mengganti air gula 20 % dengan air gula 30 % (membuat preparat baru dengan media air gula 30 %). Memperhatikan sudut-sudut sel apakah sudah terjadi plasmolisa , lalu menggambar sekumpulan se dan membandingkan dengan a dan b diatas
    4. Membuat preparat baru dengan media air dan menggambar sekumpulan sel, lalu mengganti air dengan KNO3 10 % sebagai plasmolitikum, menggambar sekumpulan sel dan membandingkan dengan a,b,dan c
    5. Mengganti media preparat c dan d dengan air dengan cara mencuci dan merendam di dalam air kira-kira 10 menit, lalu memeriksa apakah sudah terjadi deplasmolisa, lalu menggambar sekumpulan sel dan membandingkan dengan c dan d
    6. Memeriksa reaksi anthocyan terhadap asam dan basa. Membuat preparat dengan media air agak panjang. Dari samping kiri meneteskan asam H2SO4 atau HCl dan dari samping kanan meneteskan basa KOH, lalu memperhatikan warna yang terjadi, sebelah kiri, tengah, dan kanan.


 


 


 


 


 


 

  1. Pembahasan

    Telah kita ketahui bahwa plasmolisa adalah peristiwa terlepasnya membrane sel dengan dinding sel akibat isi sel mengecil yang disebabkan oleh peristiwa osmose, dimana air dalam sel berdifusi keluar sel, akibat konsentrasi air lebih tinggi dalam sel daripada diluar sel itu sendiri. Sedangkan peristiwa deplasmolisa adalah kebalikan dari peristiwa plasmolisa. Untuk melihat peristiwa plasmolisa dan deplasmolisa dengan jelas maka dalam praktikum ini menggunakan tanaman yang cairan selnya mengandung zat warna seperti anthocyan, tanaman yang digunakan yaitu Rhoe discolor (adam hawa).

    Pada percobaan ini, yang pertama-tama dilakukan adalah mengambil sobekan epidermis daun bagian bawah dari adam hawa, lalu meneteskan air diatas sobekan epidermis daun bagian bawah dari adam hawa yang telah berada di atas kaca objek lalu mengamatinya dengan mikroskop. Pergerakkan molekul air melalui membran semi permeable selalu dari larutan hipotonis menuju larutan hipertonis sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut kedua zat seimbang (isotonic). Pada saat sel diletakkan dalam aquades , konsentrasi zat terlarut dalam sel hipertonik karena adanya garam mineral, asam organic dan berbagai zat lain yang di kandung sel. Dengan demikian air akan terus mengalir ke dalam sel sehingga konsentrasi larutan di dalam sel dan di luar sel sama. Namun, membrane sel mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengembang sehingga sel tersebut tidak pecah. Pada sel tumbuhan hal ini dapat teratasi karena sel tumbuhan memiliki dinding sel yang menahan sel mengembang lebih lanjut.

    Pada saat air di dalam sitoplasma maksimum, sel akan mengurangi kandungan mineral garam dan zat-zat yang terdapat dalam sitoplasma. Hal ini membuat konsentrasi dalam zat terlarut diluar sel sama besar dibandingkan konsentrasi air di dalam sel. Pada sel rhoeo discolor yang di tetesi air suling sel menjadi membengkak karena air masuk melalui osmosis. Akan tetapi, dindingnya yang lentur akan mengembang hanya sampai pada ukuran tertentu sebelum dinding ini mengerahkan tekanan balik pada sel yang melawan penyerapan air lebih lanjut. Hal ini di sebabkan sel berada pada kondisi paling sehat dalam lingkungan hipotonik dimana kecenderungan untuk menyerap air secara terus-menerus akan diimbangi oleh dinding lentur yang mendorong sel. Jika sel dimasukkan ke dalam larutan hipertonik, air akan terus-menerus keluar dari sel . sel akan mengerut mengalami dehidrasi dan bahkan dapat mati. Pada sel tumbuhan hal ini menyebabkan sitoplasma mengerut  dan terlepas dari dinding sel. Peristiwa ini di sebut plasmolisis. Pada sel rhoeo discolor yang di beri larutan gula 20% peristiwa ini nampak jelas terlihat jumlah antocyanyn ada 7. Sel- sel pada rhoeo discolor menjadi menkerut dan terlihat bertumpuk. Hal ini di sebabkan potensial air di luar sel  rhoeo discolor  lebih rendah daripada potensial air di dalam sel. Jika sel kehilangan air cukup besar, maka ada kemungkinan volume isi sel akan menurun besar sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel.  Sel yang sudah terplasmolisis dapat disehatkan kembali dengan memasukkannya ke dalam air murni. Setelah direndam selama 2 menit sel Rhoe discolor sel akan mengalami deplasmolisa, dimana membrane sel dan dinding sel akan kembali ke kondisi semula. Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hampir sama dengan plasmolisis. Tapi, konsentrasi larutan medium dibuat lebih hipotonis, sehingga yang terjadi adalah cairan yang memenuhi ruang antara dinding sel dengan membran sel bergerak ke luar, sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk kedalam dan dapat menembus membran sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya molekul-molekul air tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel kembali terdesak ke arah luar sebagai akibat timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan semula.

    Pada sel rhoeo discolor yang di beri larutan air gula 30% peristiwa ini nampak jelas terlihat jumlah antocyanyn ada 5. Sel- sel pada rhoeo discolor menjadi menkerut dan terlihat bertumpuk. Hal ini di sebabkan potensial air di luar sel  rhoeo discolor  lebih rendah daripada potensial air di dalam sel. Setelah direndam selama 2 menit dengan menggunakan aquades maka jumah antocyanyn menjadi 3 dan dinding sel lebih rapi.

    Pada penambahan KNO3 10 % jumlah antocyanyn menjadi 8. Hal ini di sebabkan potensial air di luar sel  rhoeo discolor  lebih rendah daripada potensial air di dalam sel. Perbandingan epidermis daun dari Rhoe discolor yang diberi H2SO4 dan KOH yaitu pada epidermis daun adam hawa yang diberi H2SO4 sel terlihat lebih besar karena mengandung asam sedangkan yang diberi KOH sel terlihat lebih kecil karena larutan KOH bersifat basa.


     


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB IV

PENUTUP


 

  1. Kesimpulan


    Plasmolisa merupakan peristiwa terlepasnya membran sel dengan dinding sel akibat isi sel mengecil. Hal ini disebabkan oleh peristiwa osmose, dimana air dalam sel berdifusi keluar sel, akibat konsentrasi air lebih tinggi dalam sel daripada di luar sel itu sendiri. Ini mungkin terjadi bila sel tersebut direndam suatu larutan gula atau garam. Sedangkan peristiwa deplasmolisa adalah kebalikan dari peristiwa plasmolisa. Hal ini dimungkinkan apabila sel yang telah terplasmolisa direndam kembali ke dalam air.


     

  2. Saran


    Saya selaku praktikan berharap kepada asisten agar dapat membantu praktikannya dalam kegiatan praktikum sehingga dapat menghindari kesalahan dalam kegiatan praktikum. Selain itu, saya berharap agar kegiatan praktikum dapat dilaksanakan tepat pada waktu yang telah ditentukan agar praktikan dapat menyelesaikan segala tugas yang diberikan di dalam laboratorium.


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    DAFTAR PUSTAKA

Bambang, 2006, Biologi, Erlangga : Jakarta

Elsa, 2009, Anatomi Tumbuhan, Esis : Jakarta

Ernawati, 2006, BIOLOGI, Widya Utama : Jakarta

Fiktor Ferdinand P, 2007, Praktis Belajar Biologi, Visindo Media Persada : Jakarta

Jane B. Reech, 2003, Campblle Edisi Kelima, Jakarta : Erlangga

Tim Dosen Mikrobiologi, 2011, Penuntun Praktikum Anatomi Tumbuhan, FMIPA UNTAD : Palu

No comments:

Post a Comment

Post a Comment