Sunday, November 13, 2011

Morfologi daun

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Jika diperhatikan secara seksama, daun (folium) dari berbagai jenis tumbuhan akan memperlihatkan jumlah daun yang berbeda-beda. Karena itulah daun-daun tersebut dapat diidentifikasi kedalam dua golongan berdasarkan jumlah daunnya. Yang pertama adalah daun tunggal (folium simplex) yaitu daun dimana pada tangkai daun (petiolus) hanya terdapat satu helaian daun (lamina) saja. Kemudian yang kedua adalah daun majemuk (folium compositum) dimana pada tangkai daun (petiolus) terdapat cabang-cabang yang memiliki helaian daun (lamina), sehingga dalam satu batang (petiolus) terdapat lebih dari satu helaian daun (lamina). Daun majemuk (folium compositum) memiliki bagian-bagian yang terdiri atas ibu tangkai daun (petiolus communis), tangkai anak daun (petiololus), dan anak daun (foliolium). Berdasarkan susunan anak daun (foliolium) pada ibu tangkai daunnya (petiolus communis) dibedakan menjadi empat golongan yaitu : daun majemuk menyirip (pinnatus), daun majemuk menjari (palmatus), daun majemuk bangun kaki (pedatus), dan daun majemuk campuran (digitato pinnatus). Pada beberapa tanaman tertentu daun mengalami semacam proses reduksi yang mengakibatkan daun yang mek itulah dimiliki lebih dari satu helaian daun, hanya menyisakan satu helaian daun saja. Untuk itulah diperlukan pemahaman setelah melakukan praktikum dalam mengidentifikasi daun tunggal (folium simplex) dan daun majemuk (folium compositum).
B.     Tujuan
Mempelajari bermacam-macam tipe daun majemuk serta membedakan antara daun majemuk dan daun tunggal.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Bunga Maman (Gynandropis pentaphylla)
a.       Morfologi
Memiliki ciri morfologi berupa tumbuhan herba tegak, merambat atau tumbuh merangkak tinggi 0.15-0,80 m, berbunga sepanjang tahun. Daun mahkota bunga dengan ujung runcing seperti cakar, panjang 9-12 mm; di Jawa berwarna biru; bulu-bulu halus yang pendek; tangkai buah 20-30 mm; batang (berbentuk kapsul) yang masak berada di atas goresan daun berangsur-angsur meruncing seperti paruh; diameter biji 1,75-2 mm, elaiosom keputihan; helaian daun biasanya 3, bentuk daun memanjang atau bulat memanjang, tajam atau tumpul, dengan bulu-bulu tebal pendek; batang 0,5-2 cm dengan duri tipis. (Anonim, 2011).
b.      Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Kelas               : Dycotyledonae
Ordo                : Brassicales
Family             : Capparidaceae
Genus              : Gynandropis
Species            : Gynandropis pentaphylla
c.       Ekologi
Bunga maman dapat dengan mudah ditemukan di pinggir jalan, di sawah, dan juga lading. Di Indonesia sendiri banyak ditemukan di Pulau Kalimantan. Ditemukan juga sebagai epifit pada batu dan kayu.
d.      Nilai Medis
Bunga maman yang merupakan anggota famili Capparaceae mengandung tioglukosida (dikenal sebagai glukosinolat) yang melepaskan isotiosianat (minyak menguap) jika tanaman dihancurkan. Selain itu tanaman ini juga mengandung alkaloid dan flavonoid yang jenisnya belum diketahui. Pustaka maupun penelitian ilmiah mengenai khasiat C. rutidosperma D.C ini masih sangat terbatas dan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitasnya belum diketahui dengan pasti. C. rutidosperma dapat digunakan sebagai antifeedant (pengganti herbisida) untuk hama tanaman Brassica yaitu jenis Plutella xylostella (L.). Minyak menguapnya mempunyai aktivitas dapat mengiritasi kulit dan mungkin juga aktivitas kontak alergenik. (Anonim, 2011).
e.       Nilai Ekonomi
Bunga maman yang merupakan bahan baku pembuatan pupuk bagi hama tanaman Brassiaca secara ekonomi digunakan secara bebas di alam. Para pembuat pupuk dapat dengan mudah mengambil bahan baku alami ini di tempat tersebarnya tumuhan ini. (Anonim, 2011).

B.     Bunga Mawar (Rosa sinensis)
a.       Morfologi
Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter. Sebagian besar spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak. (Wikipedia, 2011).


b.      Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Dycotiledonae
Ordo                : Rosales
Family             :Rosaceae
Genus              : Rosa
Species            : Rosa sinensis
c.       Ekologi
Mawar sebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun. Mawar tumbuh subur di daerah beriklim sedang walaupun beberapa kultivar yang merupakan hasil metode penyambungan (grafting) dapat tumbuh di daerah beriklim subtropis hingga daerah beriklim tropis. Suhu yang cocok bagi tumbuhan ini adalah suhu yang berkisar dari 30 C -  60 C. Dengan kisaran pH 3 – 4.
d.      Nilai Medis
Bunga mawar biasa disebut sebagai Bunga Ratu karena warnanya yang menarik dan keberadaannya yang mendominasi dalam tatanan kehidupan manusia. Selain itu bermanfaat sebagai antiinflamasi, antikarsinogen, antiallergenik dan sebagainya. Bunga mawar kerap digunakan sebagai bahan dalam minuman untuk mereka yang menderita penyakit iritasi usus, kantung empedu, dan masalah pada hati. Biasanya air mawar tersebut diekstrak bersamaan dengan teh, menjadi paduan minuman sehat yang wangi dan memiliki banyak khasiat dalam tubuh.  Air mawar merupakan air bersih dan memiliki aroma yang mampu meningkatkan suasana hati. Warna mawar yang menarik terbukti juga dapat mengurangi kadar stress atau depresi karena warnanya yang menari dan indah. (Anonim, 2011).

e.       Nilai Ekonomi
Bunga mawar memang tak selalu dijual mahal. Umumnya dipasaran, bunga mawar akan dikemas dan harga dipatok sesuai dengan jenis tampilannya. Misalnya bonds of love dipatok dengan harga Rp 350 ribu. A special way, boleh dibawa pulang dengan harga Rp 325 ribu. Mawar yang dimodifikasi dengan boneka, dibanderol Rp 285 ribu. Dan jika mawar itu dipadupadankan dengan black forest, maka harganya Rp 375 ribu. Tetapi untuk harga mawar pertangkainya adalah berkisar antra Rp. 5000 – Rp. 10000. Selain sebagai bingkisan, bunga mawar juga memiliki nilai ekonomi yamh sangat tinggi, karena keunggulannya sebagai bahan baku pembuatan parfum.

C.    Johar (Cassea siamea)
a.       Morfologi
Pohon tinggi 2-20 m dengan batang lurus dan pendek, gemang jarang melebihi 50cm. Pepagan (kulit batang) berwarna abu-abu kecoklatan pada cabang yang muda; percabangan melebar membentuk tajuk yang padat dan membulat.  Daun menyirip genap, 10 - 35 cm panjangnya; dengan tangkai bulat torak sepanjang 1,5 - 3,5 cm yang beralur dangkal di tengahnya; poros daun tanpa kelenjar; daun penumpu meruncing kecil, 1 mm, mudah rontok. Anak daun 4 - 16 pasang, agak menjangat, jorong hingga jorong-bundar telur, 3 - 8 cm × 1 - 2,5 cm, panjang 2 - 4 × lebarnya, pangkal dan ujungnya membulat atau menumpul, gundul dan mengkilap di sisi atas, dengan rambut halus di sisi bawah. Bunga terkumpul dalam malai di ujung ranting, panjang 15—60 cm, berisi 10—60 kuntum yang terbagi lagi ke dalam beberapa tangkai (cabang) malai rata. Kelopak 5 buah, oval membundar, 4—9 mm, tebal dan berambut halus. Mahkota bunga berwarna kuning cerah, 5 helai, gundul, bundar telur terbalik, bendera dengan kuku sepanjang 1—2 mm. Benangsari 10, yang terpanjang lk. 1 cm; kurang lebih sama panjang dengan bakal buah dan tangkai putiknya. (Wikipedia, 2011).
b.      Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Dycotiledonae
Ordo                : Fabales
Family             : Fabaceae
Genus              : Cassea
Species            : Cassea siamea
c.       Ekologi
Asal-usul johar adalah dari Asia Selatan dan Tenggara.[3][4] Tumbuhan ini telah dibudidayakan begitu lama, sehingga tanah asalnya yang pasti tidak lagi diketahui. Di Indonesia, johar diketahui tumbuh alami di Sumatra. Johar dapat tumbuh baik pada pelbagai kondisi tempat; akan tetapi paling cocok pada dataran rendah tropika dengan iklim muson, dengan curah hujan antara 500—2800 mm (optimum sekitar 1000 mm) pertahun, dan temperatur yang berkisar antara 20—31 °C. Johar menyukai tanah-tanah yang dalam, sarang, dan subur, dengan pH antara 5,5—7,5. Tanaman ini tidak tahan dingin dan pembekuan, tidak bagus tumbuhnya di atas elevasi 1300 m dpl.(Wikipedia, 2011).
d.      Nilai Medis
Tanaman johar sangat dikenal dari Zaman nenek moyang dulu untuk mengobati berbagai macam penyakit diantara nya penyakit malaria.Kekayaan hayati yang sudah dimanfaatkan nenek moyang kita sejak ratusan tahun lalu, sampai kini masih potensial dikembangkan. Salah satunya adalah tanaman johar (Cassia siamea Lamk), yang telah digunakan secara empirik tradisional untuk mengobati malaria. Pengobatan malaria menjadi penting, karena saat ini berbagai upaya untuk mengatasi malaria masih belum memuaskan. Penggunaan johar untuk atasi malaria sudah dilakukan masyarakat Jawa. Sedang di Aceh johar dikenal sebagai obat tradisional untuk penyakit kuning atau hepatitis.Alternatif pengobatan malaria diperlukan, karena resistensi parasit malaria terhadap beberapa obat modern banyak terjadi. Misal klorokuin di hampir semua provinsi di Indonesia. Daerah endemik malaria pun makin meluas. Perusakan lingkungan yang makin tak terkendali, membuat pemberantasan penyakit maupun vektornya makin berat. Kebiasaan  menggunakan johar kemudian diteliti, untuk menjawab cara kerjanya dalam mengatasi malaria. Mungkinkah dapat membunuh parasit malaria, menurunkan demam, atau meningkatkan daya tahan tubuh? Maka dilakukanlah penelitian pengaruh johar terhadap Plasmodium berghei in vivo pada mencit dan Plasmodium falciparum in vitro. Dilakukan pula penelitian untuk melihat efek antipiretik johar pada tikus yang didemamkan. Untuk mengetahui peningkatan daya tahan tubuh, dilakukan penelitian imunomodulator menggunakan tikus. Selain itu, ada berbagai penelitian pelengkap antara lain toksisitas akut sampai subkronik, penelitian mutagenik untuk mengetahui efek perubahan gen yang dapat mengarah pada timbulnya kanker dan penelitian fitokimia untuk mengetahui kandungan zat berkhasiat, serta penelitian formulasi untuk memperoleh formula terbaik dilihat dari sisi teknologi farmasi. Para peneliti obat tradisional di Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional, Badan Litbangkes Depkes RI, sudah mampu melakukan semua prosedur penelitian di atas. Namun, sebelum penelitian berlangsung, perlu dilakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui berbagai bentuk sediaan tanaman johar berdasarkan polaritasnya. Antara lain bentuk infus, ekstrak etanol 70 persen, ekstrak kloroform, ekstrak eter-minyak bumi. Ternyata ekstrak etanol 70 persen toksisitasnya paling rendah sedang beberapa efek farmakologinya paling baik. Karena itu, digunakanlah bahan uji berupa ekstrak etanol 70 persen . Garis besar penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Berdasarkan penelitian toksisitas akut menurut cara Weil dan kawan-kawan, ekstrak etanol 70 persen daun johar tergolong tidak toksik. Cara menggunakan Daun Johar : Caranya dengan menggunakan 3/4 genggam daun johar segar, dicuci lalu direbus dengan air bersih tiga gelas hingga tinggal lebih kurang tiga perempatnya. Sesudah dingin disaring lalu diminum dicampur dengan madu secukupnya diminum 3 kali sehari masing-masing 3/4 gelas. Daun-daun johar, bunga dan polongnya yang muda dapat dijadikan pakan ternak ruminansia, namun kandungan alkaloida di dalamnya terbukti toksik (beracun) bagi non-ruminansia seperti babi dan unggas.  Akan tetapi setelah melalui perebusan dan penggantian airnya beberapa kali, daun-daun johar yang muda dan bunganya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dalam masakan lokal di Thailand dan Srilanka. Johar juga menghasilkan zat penyamak dari pepagan, daun dan buahnya. Akarnya digunakan untuk mengobati cacingan dan sawan pada anak-anak. Kayu terasnya berkhasiat sebagai pencahar, dan rebusannya digunakan untuk mengobati kudis di Kamboja. Sementara di Jawa Tengah, teh johar yang dihasilkan dari rebusan daunnya dipakai sebagai obat malaria. Daun-daun dan bagian tumbuhan lainnya dari johar mengandung senyawa-senyawa kimia seperti antrakinona, antrona, flavona, serta aneka triterpenoida dan alkaloida, termasuk pula kasiadimina (cassiadimine). (Anonim, 2011).
e.       Nilai Ekonomi
Pohon johar selain memiliki nilai medis yang bermanfaat mengobati berbagai penyakit melalui daunnya, juga sangat memiliki nilai ekonomi, dimana batangnya merupakan salah satu komoditi yang banyak dimanfaatkan sebagai meubel. Bibit pohon johar sendiri dipasaran di jual seharga Rp. 35000 perpollybag. (Wikipedia, 2011)

D.    Kelor (Moringa oleifera)
a.       Morfologi
Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 5 -11 meter. Pohon Kelor tidak terlalu besar, batang kayunya mudah patah dan cabangnya agak jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur (oval) dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Moringa oleifera memiliki daun majemuk atau folium compositum, dimana terdiri atas bagian-bagian : anak daun atau foliolus, batang daun atau petiolus dan ibu batang daun atau petiolus communis. Spesifiknya daun ini adalah merupakan daun majemuk menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna, mengapa dikatakan tidak sempurna karena terdapat daun yang berpasangan dan terdapatpula satu daun yang single atau sendiri. Circumscriptio atau bangun daunnya adalah orbicularis atau bundar dimana perbandingan panjang dan lebarnya adalah 1 : 1.  Setelah di sentuh pada daun, sapat diketahui bahwa intervenium atau daging daunnya adalah herbaceus atau tipis lunak. Margo folii atau pinggir daun terlihat jelas menunjukkan bentuk yang rata atau integer. Sedangkan apex folii atau ujung daun adalah rotundatus dimana seperti ujung tumpul, tidak membentuk sudut sama sekali, sehingga pada ujungnya terbebtuk semacam suatu busur. Basis folii atau atau pangkal daunnya sama halnya dengan apex folii atau pangkal daunnya memiliki bentuk rotundatus atau membulat. Permukaan daunnya berbentuk leavis ntidus atau licin mengkilap berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium. Sedangkan pertulangan daun atau nervationya adalah cervinervis atau bertulang daun daun melengkung, dimana terdapat satu tulang daun yamg paling besar dan yang lainnya mengikuti jalannya tepi daun. jadi semua memencar kemudian kembali ke atu arah yang sama yaitu ujung daun, sehingga selain tulang daun yang di tengah tulang daunnya terlihat seperti melengkung. Duduk daunadalah folio sparsa atau tersebar dimana jika diperhatikan secara seksama jika diambil dari salah satu titik tolak daun dan kemudian kita bergerak mengikuti daunnya secara gari spiral lurus, akan didapati perbandingan pecahan yang dimiliki secara tetaqp oleh setiap tumbuhan. (Anonim, 2011).
b.      Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Brassicales
Family             : Moringaceae
Genus              : Moringa
Species            : Moringa oleifera
c.       Ekologi
Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu tumbuhan yang umumnya dapat hidup dengan baik di daerah tropis dengan kadar ph yang rendah dimana memiliki suasan asam yaitu ph kurang dari 3.
d.      Nilai medis
Tanaman kelor mengandung gizi yang tinggi dan sangat bermanfaat untuk perbaikan gizi. Terbukti bahwa kelor telah berhasil mencegah wabah kekurangan gizi di beberapa negara di Afrika dan menyelamatkan banyak nyawa anak-anak dan ibu-ibu hamil.  Dilihat dari nilai gizinya kelor adalah tanaman berkhasiat sejati (miracle tree), artinya tanaman ini bisa dimanfaatkan dari akar, batang, buah dan daun serta mengandung gizi tinggi. Kandungan gizi daun kelor segar (lalapan),  setara dengan; 4x vitamin A yang dikandung wortel,  7x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 4x mineral Calsium dari susu, 3x mineral Potassium pada pisang, 3/4x zat besi pada bayam, dan 2x protein dariyogurt. Sedangkan kandungan gizi daun kelor yang dikeringkan setara dengan; 10x vitamin A yang dikandung wortel,  1/2x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 17x mineral Calsium dari susu, 15x mineral Potassium pada pisang, 25x zat besi pada bayam, dan 9x protein dari yogurt. Selain itu juga sebagian penduduk di Indonesia sudah memakai tanaman ini sebagai sayur atau lalapan serta obat tradisional. Di India kelor berkhasiat sebagai obat; anemia, anxiety, asma, bronchitis, katarak, kolera, conjunctivitis, batuk, diarrhea, infeksi mata dan telinga, demam, gangguan kelenjar, sakit kepala, tekanan darah tidak normal, radang sendi, gangguan pernafasan, scurvy,kekurangan cairan sperma dan tuberculosis. Di beberapa negara, tanaman kelor diolah dalam bentuk makanan seperti; tepung daun kelor,  bubur, sirup, teh daun kelor, sauce kelor, biskuit kelor dan lainnya. Sementara itu di Indonesia sedikit sekali orang yang memanfaatkan tanaman kelor ini sebagai makanan. Dengan banyaknya aneka masakan yang ada Indonesia kenapa kita tidak bisa memanfaatkan kelor sebagai bahan makanan kita sehari-hari?, apalagi dengan tingginya harga daging, susu dan telur saat ini. (Wikipedia, 2011).
e.       Nilai Ekonomi
Kelor merupakan salah satu jenis sayuran yang di konsumsi oleh beberapa masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Kelor merupakan jenis sayur yang mudah didapatkan di pasaran dengan harga terjangkau. Di pasar harga kelor berkisar antara Rp. 1000 – Rp. 1500 per ikat. (Wikipedia, 2011).

E.     Singkong (Manihot utilissima)
a.       Morfologi
Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. (Anonim, 20110).
b.      Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Dycotyledonae
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Malphigiales
Family             : Euphorbiaceae
Genus              : Manihot
Species            : Manihot utilissima
c.       Ekologi
Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas Manihot utilissima dapat dibudidayakan. Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia. Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil. (Wikipedia, 2011).
d.      Nilai Medis
Kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi: Kalori 146 kal, air 62,50 gram, fosfor 40,00 gram, karbohidrat 34,00 gram, kalsium 33,00 miligram, vitamin C 0,00 miligram, protein 1,20 gram, besi 0,70 miligram, lemak 0,30 gram, vitamin B1 0,01 miligram. Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka. (Wikipedia, 2011).
e.       Nilai Ekonomi
Di pasaran, singkong merupakan salah satu makanan pokok alternatif pengganti beras yang banyak dicari oleh masyarakat. Mulai dari umbi sebagai sumber karbohidrat yang harganya berkisar Rp. 6000 – Rp. 8000 per kilogram, dan daunya yang dapat disayur memiliki harga jual berkisar Rp. 3000 – Rp. 4000 per ikat. (Anonim, 2011).



BAB III
METODOLOGI
A.    Waktu dan Tempat
Waktu             : Sabtu 2 April 2011
Tempat            : Laboratorium Biodiversity FMIPA UNTAD
B.     Alat dan Bahan
1.      Buku gambar
2.      Alat tulis
3.      Daun Cassea siamea
4.      Daun Gynandropis pentaphylla
5.      Daun Rosa sinensis
6.      Daun Moringa oleifera
7.      Daun Manihot utilissima
C.    Prosedur Kerja
1.      Menuliskan nama species dan family pada tumbuhan tersebut.
2.      Menggambar dan memberi keterangan bagian-bagian:
 Helaian daun (Lamina)
 Tangkai daun (Petiolus)
 Ibu tangkai daun (Petiolus communis)
 Circumscriptio
 Intervenium
 Margo folii
 Apex folii
 Basis folii
 Permukaan daun
3.      Menyebutkan duduk daun
Tersebar (Folio sparsa)
Berkarang (Folio ferticilata)
Berhadap-hadapan (Folio oppsita)
Berseling berhadap-hadapan (Folio decurata)
Berseling (Folio disticha)
4.      Menentukan susunan daun majemuk:
Menyirip ganjil (Imparipinnatus)
Menyirip genap (Abrupte pinnatus)
Menyirip berseling
Menyirip ganda, dua, dan seterusnya
Menjari berdaun satu (unifoliolatus)
Menjari berdaun dua, tiga dan seterusnya
Menjari ganda dua (bibifoliatus)
Majemuk menyirip ganjil rangkap tiga
Majemuk campuran (digitato pinnatus)


BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
No
Gambar
Keterangan
1.

Bunga Maman
Gynandropis pentaphylla
Folium compositum
Circumscriptio   : Orbicularis
Intervenium        : Herbaceus
Margo folii         : Integer
Apex folii           : Rotundatus
Basis folii           : Obtosus
Permukaan daun : Leavis
Nervatio              : Rectinervis
Duduk daun        : Folio oppsita


No
Gambar
Keterangan
2.

Bunga mawar
Rossa sinensis
Folium compositum
Circumscriptio   : Orbicularis
Intervenium        : Herbaceus
Margo folii         : Serratus
Apex folii           : Acuminatus
Basis folii           : Obtosus
Permukaan daun : Leavis
Nervatio              : Penninervis
Duduk daun        : Folio derivate

No
Gambar
Keterangan
3.





















Johar
Cascea siamea
Folium compositum
Circumscriptio   : Ovalis
Intervenium        : Papyraceus
Margo folii         : Integer
Apex folii           : Rotundatus
Basis folii           : Rotundatus
Permukaan daun : Leavis
Nervatio              : Penninervis
Duduk daun        : Folio oppsita

No
Gambar
Keterangan
4.

Kelor
Moringa oleifera
Folium compositum
Circumscriptio   : Orbicularis
Intervenium        : Herbaceus
Margo folii         : Integer
Apex folii           : Rotundatus
Basis folii           : Rotundatus
Permukaan daun : Leavis
Nervatio              : Cervinervis
Duduk daun        : Folio Sparsa

No
Gambar
Keterangan
5.

Singkong
Manihot utilissima
Folium simplex
Circumscriptio   : Orbicularis
Intervenium        : Herbaceus
Margo folii         : Integer
Apex folii           : Acuminatus
Basis folii           : Obtosus
Permukaan daun : Leavis
Nervatio              : Palminervis
Duduk daun        : Folio Sparsa



















B.     Pembahasan
a.       Bunga Maman (Gynandropis pentaphylla)
Gynandropis pentaphylla memiliki jenis daun majemuk atau folium compositum dimana terdapat bagian-bagian : anak daun atau foliolus, batang daun atau petiolus dan ibu batang daun atau petiolus communis. Jenis daun majemuknya adalah daun majemuk menjari beranak daun lima atau quinquefoliatus. Memiliki circumscriptio atau bangun daun orbicularis atau bundar dimana perbandingan panjang dan lebarnya adalah 1 : 1. Setelah di sentuh pada daun, sapat diketahui bahwa intervenium atau daging daunnya adalah herbaceus atau tipis lunak. Margo folii atau pinggir daun terlihat jelas menunjukkan bentuk yang rata atau integer. Sedangkan apex folii atau ujung daun adalah rotundatus dimana seperti ujung tumpul, tidak membentuk sudut sama sekali, sehingga pada ujungnya terbebtuk semacam suatu busur. Dan pada bagian basis folii atau pangkal daunnya merupakan obtosus yang memang umumnya terdapat pada daun-daun berbangun bulat dan jorong. Permukaan daun pada daun ini adalah leavis atau licin. Nervatio atau pertulangan daun dari bunga maman ini adalah bertulang sejajar atau bertulang lurus (rectinervis), dimana umumnya pada daun terdapat satu tulang yang membujur pada daun , dan tulang-tulang lainnya jelas lebih kecil dan nampak semuanya memiliki arah sejajar dengan ibu tulang. Duduk daun dari hasil pengamatan di laboratorium adalah merupan folio oppsita atau dimana antara daun yang satu dengan daun yang lainnya dipisahkan oleh jarak seluas 180 atau intinya daun-daun tersebut berhadapan bersilang.
b.      Bunga mawar (Rossa sinensis)
Rossa sinensis memiliki daun majemuk atau folium compositun dimana terdiri atas bagian-bagian : anak daun atau foliolus, batang daun atau petiolus dan ibu batang daun atau petiolus communis. Jenis daun majemuknya adalah daun majemuk menjari beranak daun lima atau quinquefoliatus. Memiliki circumscriptio atau bangun daun orbicularis atau bundar dimana perbandingan panjang dan lebarnya adalah 1 : 1. Setelah di sentuh pada daun, sapat diketahui bahwa intervenium atau daging daunnya adalah herbaceus atau tipis lunak. Margo folii atau pinggir daun terlihat jelas menunjukkan bentuk yang rata atau serratus dimana sinus dan angulus sama lancipnya. Basis folii atau ujung daunnya adalah berbentuk obtosus yang memang umumnya terdapat pada daun-daun berbangun bulat dan jorong. Apex folii dari daun tersebut adalah acuminatus atau meruncing, dimana pada ujungnya seperti didapatkan titik pertemuan kedua tepi daun yang membentuk suatu sudut lancip yang membentuk lebih kecil dari 90. Permukaan daunnya dalah leavis atau licin. Dan nervatio atau pertulangan daunnya adalah penninervis atau bertulang daun menyirip dimana terdapat satu ibu tulang daun yang berjalan dari pangkal sampai keujung dan mmerupakan terusan dari daun. Dari ibu tulang daun ini pada bagian-bagian sampingnya keluar tulang-tulang bercabang, susunan ini hampir mirip dengan struktur sirip-sirip pada ikan. Sedangkan duduk daunnya adalah folio decurata atau berseling saling berhadapan, pada tiap-tiap buku-buku batang daun terdapat lebih dari dua daun.
c.       Johar (Cascea siamea)
Merupakan daun majemuk atau folium compositum dimana terdiri atas anak daun atau foliolus, batang daun atau petiolus dan ibu batang daun atau petiolus communis. Jenis daun majemuknya adalah daun majemuk menyirip genap atau abrupte pinnata. Circumscriptio atau bangun daunnya adalah ovalis atau jorong dimana perbandingan antara panjang dan lebarnya adalah 1 ½  - 2 : 1. Intervenium atau daging daunnya adalah papyraceus atau menyerupai gulungan kertas, tipis tapi cukup tegar. Margo folii atau pinggir daunnya adalah rata atau integer. Apex folii atau ujung daunnya adalah rotundatus atau membulat dimana seperti pada ujug daun yang tumpul dan tidak terbentuk sudut sama sekali sehingga, hingga ujung daun menyerupai semacam busur .
d.      Kelor (Moringa oleifera)
Moringa oleifera memiliki daun majemuk atau folium compositum, dimana terdiri atas bagian-bagian : anak daun atau foliolus, batang daun atau petiolus dan ibu batang daun atau petiolus communis. Spesifiknya daun ini adalah merupakan daun majemuk menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna, mengapa dikatakan tidak sempurna karena terdapat daun yang berpasangan dan terdapatpula satu daun yang single atau sendiri. Circumscriptio atau bangun daunnya adalah orbicularis atau bundar dimana perbandingan panjang dan lebarnya adalah 1 : 1.  Setelah di sentuh pada daun, sapat diketahui bahwa intervenium atau daging daunnya adalah herbaceus atau tipis lunak. Margo folii atau pinggir daun terlihat jelas menunjukkan bentuk yang rata atau integer. Sedangkan apex folii atau ujung daun adalah rotundatus dimana seperti ujung tumpul, tidak membentuk sudut sama sekali, sehingga pada ujungnya terbebtuk semacam suatu busur. Basis folii atau atau pangkal daunnya sama halnya dengan apex folii atau pangkal daunnya memiliki bentuk rotundatus atau membulat. Permukaan daunnya berbentuk leavis ntidus atau licin mengkilap berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium. Sedangkan pertulangan daun atau nervationya adalah cervinervis atau bertulang daun daun melengkung, dimana terdapat satu tulang daun yamg paling besar dan yang lainnya mengikuti jalannya tepi daun. jadi semua memencar kemudian kembali ke atu arah yang sama yaitu ujung daun, sehingga selain tulang daun yang di tengah tulang daunnya terlihat seperti melengkung. Duduk daunadalah folio sparsa atau tersebar dimana jika diperhatikan secara seksama jika diambil dari salah satu titik tolak daun dan kemudian kita bergerak mengikuti daunnya secara gari spiral lurus, akan didapati perbandingan pecahan yang dimiliki secara tetaqp oleh setiap tumbuhan.


e.       Singkong (Manihot utilissima)
Merupakan daun tunggal atau folium simplex, dimana terdiri atas helaian daun atau lamina, dan batang daun atau petiolus. Memiliki circumscriptio atau bangun dau berupa bulat / bundar atau orbicularis. Setelah di sentuh pada daun, sapat diketahui bahwa intervenium atau daging daunnya adalah herbaceus atau tipis lunak. Margo folii atau pinggir daun terlihat jelas menunjukkan bentuk yang rata atau integer. Sedangkan apex folii atau ujung daun adalah rotundatus dimana seperti ujung tumpul, tidak membentuk sudut sama sekali, sehingga pada ujungnya terbebtuk semacam suatu busur. Basis folii atau ujung daunnya adalah berbentuk obtosus yang memang umumnya terdapat pada daun-daun berbangun bulat dan jorong. Permukaan daunnya berbentuk leavis atau licin berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium. Nervatio atau pertulangan dauunya adalah palminervis atau bertulang daun menjari, yaitu jika dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar dan memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan. Jumlah tulangnya secara umum adalah gasal, di bagian tengah merupakan paling panjang, dan bagian samping semakin memendek.











BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Daun berdasarkan banyaknya jumlah helaian daunnya atau lamina terbagi menjadi dua yaitu daun tunggal atau folium simplex dan daun majemuk atau folium compositum. Daun tunggal atau folium ciompositum dapat dibedakan ke dalam empat jenis yaitu : daun majemuk menyirip atau pinnatus, daun majemuk menjari atau palmatus, daun majemuk bangun kaki atau pedatus dan daun majemuk campuran atau digitato pinnatus.
B.     Saran
            Praktikan hendaknya mempelajari materi praktikum sebelum masuk ke dalam laboratorium, sehingga memudahkan praktikan dalam menerima pemaparan dari asisten dosen.

2 comments: