Wednesday, November 16, 2011

Protein

PROTEIN

I.         Tujuan Percobaan
          Menentukan kadar protein yang terdapat dalam sampel dengan metode formal

II.      Tinjauan Pustaka
          Protein adalah senyawa organic yang banyak dijumpai kalam semua makhluk hidup. Protein terdiri dari karbon, hydrogen dan nitrogen dan umumnya juga mengandung sulfur. Molekulnya berkisar antara 6000 hingga jutaan. Satu molekul protein terdiri dari rantai panjang polipeptida. Polipeptida ini berasal dari asam. Asam amino yang salaing berikatan dengan urutan yang khas. Ikantan teratur yang berurutan ini dinamakan struktur primer protein. Polipeptida dapat melipat atau menggulung yang menyebabkan timbulnya struktur sekunder. Struktur tersier asam amino berbentuk tiga dimensi dari polipeptida yang menggulung atau melipat ini. Struktur kuartener muncul polipeptida yang terlibat. Pemanasan dengan suhu diatas 500C atau pemberian asam basah kuat akan membuat protein kehilangan struktur tersiernya yang khas. Hal ini juga dapat menimbulkan koagulat yang tak larut (misalnya patih telur). Proses ini dapat membuat sifat hayatinya menjadi tidak aktif (Tanti, 2009)
           Struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi local dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktruk sekunder misalnya alpha helix berupa pilihan rantai asam amino berbentuk seperti spiral Beta-sheet berupa lembaran lembar lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melallui ikatan hydrogen atau ikatan Beta turn dan Gamma turn (Gunawan, 2010)
          Ikatan asam amino ialah ikatan peptide maka struktur ikatan peptide yang urutannya diketahui untuk mengetahui jenis jumlah dan urutan asam amino dalam protein dilakukan analisis yang terdiri dari beberapa tahap yaitu penentuan jumlah rantai polipeptida yang berdiri sendiri, pemecahan ikatan antara rantai polipeptida tersebut. Pemecahan masing-masing rantai polipeptida dan analisis urutan asam amino pada rantai polipeptida (Gunawan, 2010).
          Protein merupakan suatu senyawa polimer yang dibentuk dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida antara asam amino satu dengan yang lainnya. Sifat dari berbagai macam protein tergantung pada jumlah asam amino yang menyusunnya, disamping itu juga dipengaruhi oleh rantai samping dari masing-masing asam amino (Tim Dosen Biokimia, 2011).
          Protein tidak larut dalam pelarut organic tetapi akan mengendap apabila kedalam larutannya ditambahkan Na2SO4 atau NaCl juga alcohol dan aseton. Senyawa ini juga cenderung mengalami perubahan bentuk yang dinyatakan dengan denaturasi protein. Perubahan tersebut terjadi disebabkan karena molekul protein peka terhadap senyawa-senyawa tertentu maupun panas sehingga konfirmasi molekul menjadi berubah (Tim Dosen Biokimia, 2011).
         Kandungan protein dalam sampel dapat ditentukan dengan berbagai metode. Setiap metode memiliki tingkat ketelitian yang berbeda. Dalam hal ini kandungan  protein biasanya disetarakan dengan jumlah atom H (Tim Dosen Biokimia, 2011).

III.   Metodologi
3.1.   Alat dan Bahan
-          Alat
1.      Erlenmeyer 100 ml
2.      Pipet tetes
3.      Buret 25 ml
4.      Gelas kimia 100 ml
5.      Gelas ukur 10 ml
6.      Corong
7.      Klem dan statif

-          Bahan
1.      Putih telur                   6.    K-Oksalat jenuh
2.      Air tahu                       7.   Indikator PP 1%
3.      Susu                             8.   Larutan NaOH 0,1 N
4.      Formal dehid
5.      Aqades

3.2.   Prosedur Kerja
1.      Mengambil 10 ml larutan sampel kedalam Erlenmeyer 100 ml, menambahkan 20 ml air dan 0,4 larutan K- Oksalat jenuh. Serta 1 ml indicator PP, mendiamkan selama 2 menit.
2.      Mentitrasi sampel denan NaOH 0,1 N sampai berwarna pink
3.      Menambahkan 2 ml larutan formaldehid 40% lalu lanjutkan titrasi sampai berbentuk larutan lanjutan.
4.      Mencatat volume NaOH yang terpakai
5.      Melakukan pekerjaan yang sama menggunakan larutan blanko
6.      Menghitung  % N dalam sampel menggunakan rumus
%N= ml NaOH X N X 14,008Berat sampel X 10

IV.   Hasil Pengamatan
No
Sampel
NaOH
1
2
3
4
Susu
Air tahu
Putih telur
Blanko
71,5 ml
19,5 ml
13,5 ml
2 ml

V.      Analisa Data
Rumus menghitung %N
%N = ml NaOH X N X 14,008Berat sampel X 10
5.1.   Susu
%N = 71,5 ml X 0,1 ml/l X 14,008 gr/ml10 gr X10ml/l
       = 100,1100
         = 1,00%
5.2.   Air tahu
%N = 19,5 ml X 0,1 ml/l X 14,008 gr/ml10 gr X10ml/l
               = 0,27 %
5.3.   Putih telur
                %N = 13,5 ml X 0,1 ml/l X 14,008 gr/ml10 gr X10ml/l
         = 0,189 %
5.4.   Blanko
              %N = 2 ml X 0,1 ml/l X 14,008 gr/ml10 gr X10ml/l
       = 0,028 %

VI.   Pembahasan
          Protein merupakan senyawa polimer yang terbentuk dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan langsung oleh ikatan peptide antara asam amimo satu dengan asam amino lainnya. Protein merupakan komponen yang sangat penting dalam proses metabolime darah. Protein terdapat dalam banyak makanan pokok yang sering dikonsumsi sehari-hari seperti ikan, susu, kacang kedelai dan lain-lain. Metode titrasi formol merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui kadar protein dalam suatu sampel atau bahan.
          Pada perlakuan pertama yaitu mengambil ke tiga sampel yang ada dimasukkan kedalam Erlenmeyer masing-masing 10 ml, kemudian ditambahkan aqaddest. Tujuan dari penambahan ini adalah untuk menghidrolisis protein dalam sampel menjadi asam amino. Setelah itu sampel ditambahkan dengan K-Oksalat jenuh yang bertujuan merusak konfirmasi protein pada sampel sehingga protein mudah terhidrolisis. Dimana pada saat penambahan K-Oksalat jenuh, pada tiap masing-masing sampel tidak ada suatu perubahan yang terjadi. Setelah itu sampel ditambahkan indicator PP, tujuannya untuk memberikan perubahan warna pada sampel saat dititrasi dengan NaOH. Sebelum dititrasi pada sampel dilakukan pengocokan., tujuannya adalah untuk homogenosis sehingga semua larutan dalam sampel tercampur sempurna, dan kemudian didiamkan selama 2 menit. Pendiaman larutan ini berfungsi untuk agar larutan yang memiliki protein benar-benar terhidrolisis.
          Selanjutnya ketiga sampel tersebut dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna pada sampel. Tujuan dari titrasi yaitu menetralkan gugus-gugus karboksilat yang terdapat pada asam amino, yang setara dengan banyaknya protein dalam sampel. Titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna pada sampel. Setelah titrasi yang pertama telah selesai ditambahkan dengan larutan formaldehid 40%, dimana tujuan dari penambahan ini adalah untuk memblokade gugus amino (NH2 ) dari asam-asam amimo sehingga yang bereaksi dengan NaOH adalah gugus karboksil. Dimana pada saat penambahan formal dehid warna pink yang dihasilkan berangsur-angsur hilang, warna kembali seperti semula. Sampel tersebut kembali dititrasi dengan NaOH sampai timbul warna pink pada sampel.
          Berdasarkan hasil analisa pada sampel dan berdasarkan  analisa data ditemukan bahwa %N yang diperoleh pada masing-masing sampel yaitu air susu %N sebanyak 1,00 %, air tahu %N sebanyak 0,27 %, putih telur %N sebanyak 0,189 % dan blanko %N sebanyak 0,028 %. Dari nilai%N yang diketahui sampel yang memiliki %N yang paling tinggi adalah air susu. Jika dibandingkan dengan literatur dimana menyatakan kandungan protein %N yang  tinggi terdapat pada putih telur 14,82 %  kemudian air tahu 1,62 %, susu 3,27%, dan blanko 0,043%. Hasil percobaan yang diperoleh berbeda dengan literature hal ini disebabkan kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan serta dipengaruhi oleh tingkat kekurangan metode titrasi formol dalam menentukan kadar protein dalam sampel, kurang akurat, serta jumlah takaran yang digunakan terbatas sehingga %N yang didapatkan tidak sesuai dengan literatur.

VII.Penutup
7.1.Kesimpulan
1.        Protein merupakan senyawa polimer yang disusun atas monomer-monomer asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptide antara asam amino satu dengan yang lainnya.
2.        Prinsip titrasi formal adalah metode analisis cara penentuan protein dengan cara titrasi formal untuk menghirolisis protein dalam sampel dengan menggunakan aquades di ubah menjadi asam amino yang setara dengan banyaknya protein,memblokade gugus amino(NH2), dan asam amino,sehingga hanya terdapat gugus karboksil yang bereaksi dengan Na OH pada penggunaan formaldehid 45%.
3.        %N yang di dapatkan masing-masing sampel adalah pada air susu 1%, air tahu 0,27%, dan putih telur 0,189%.

7.2.Saran
           Agar alat-alat didalam laboratorium lebih agar kegiatan praktikum berjalan lancar dan mendapatkan hasil pengamatan sesuai dengan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan. 2010. Asam Amino. Terhubung berkala (http://www.scribd.com/doc/ 12936574/ Asam-Amino-Non-Esensial) diakses 20 Oktober 2011
Tanti. 2009. Protein. Terhubung berkala (http://id.shvoong.com/exact sciences/ biology/1902571-Protein) diakses 21 Oktober 2011
Tim Dosen Biokimia. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia. Universitas Tadulako, Palu

1 comment: