Sunday, March 17, 2013

Jaringan Otot



BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Blakang
         Jaringan otot memerlukan unsur jaringan ikat untuk sekurang-kurangnya dua alas an. Pertama, sel otot mempunyai metabolism yang sangat aktif dan karenanya memerlukan sangat banyak nutrien dan oksigen. Kapiler yang menyediakan bahan pokok ini terletak dalam jaringan ikat longgar halus yang terdapat di antara sel-sel otot atau di antara berkas sel-sel ini. Kedua, agar tubuh memperoleh manfaat dari suatu kontraksi otot, maka sel otot harus tertambat pada sesuatu agar dapat menarik, yaitu pada unsur jaringan ikat fibrosa kuat dari otot
           Dalam tubuh vertebrata, terdapat tiga jenis jaringan otot, yaitu otot rangka, otot jantung, dan otot polos. Otot rangka (skeletal muscle) yang dilekatkan ke tulang oleh tendon, bertanggung jawab atas pergerakan tubuh secara sadar. Orang dewasa memiliki jumlah sel-sel otot yang tetap, mengangkat beban dan metode lain untuk membentuk otot tidak meningkatkan jumlah sel, tetapi hanya memperbesar ukuran sel yang sudah ada. Berdasarkan pernyataan jaringan otot mempunyai fungsi penting bagi makhluk hidup khususnya pada hewan sehingga hal ini yang melatar belakangi pembuatan laporan ini.


B.       Tujuan
             Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
1.      Mempelajari ciri-ciri jaringan otot
2.      Membandingkan struktur histologist jaringan otot rangka, otot jantung dan otot polos


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

          Menurut (Wikepedia, 2012) Sel otot merupakan sel dengan banyak nuklei yang terjadi karena proses fusi dari sel mioblas. Jenis-jenis otot yang ada dalam tubuh :
A.      Otot lurik
          Memiliki desain yang efektif untuk pergerakan yang spontan dan membutuhkan tenaga besar. Pergerakannya diatur sinyal dari sel syaraf motorik. Otot ini menempel pada kerangka dan digunakan untuk pergerakan.
B.       Otot polos
          Otot yang ditemukan dalam intestinum dan pembuluh darah bekerja dengan pengaturan dari sistem saraf tak sadar, yaitu saraf otonom.[2] Otot polos dibangun oleh sel-sel otot yang terbentuk gelondong dengan kedua ujung meruncing,serta mempunyai satu inti, seperti yang terlihat pada gambar.
C.      Otot jantung
          Otot yang ditemukan dalam jantung ini bekerja secara terus-menerus tanpa henti. Pergerakannya tidak dipengaruhi sinyal saraf pusat.
         Jaringan otot (muscle tissue) terdiri atas sel-sel panjang yang disebut serabut otot yang mampu  berkontraksi ketika dirangsang oleh impuls saraf. Tersusun dalam susunan paralel di dalam sitoplasma, serabut otot adalah sejumlah besar mikrofilamen yang terbuat dari protein kontraktil aktin dan myosin. Otot adalah jaringan yang paling banyak terdapat pada sebagian besar hewan, dan kontraksi otot menyerupai bagian besar dari kerja seluler yang memerlukan energy dalam suatu hewan yang aktif, yang tentunya dalam jumlah yang banyak untuk menghasilkan suatu kerja tersebut (Campbell 2004).
Bagi berbagai jenis kontraksi yang diperlukan bagian-bagian tubuh tersedia tiga jenis otot berbeda. Jenis yang paling umum dikenal sebagai otot rangka, otot volunter atau otot bercorak. Otot disebut sebagai rangka karena kontraksinya biasanya menggerakkan beberapa bagian kerangka, dan dikatakan sebagai otot volunter karena kontraksinya biasanya dapat diatur oleh kemauan kita, dan bercorak karena seratnya nampak gurat-gurat melintang gelap dan terang secara selang-seling yang disebut gurat melintang bila dilihat di bawah mikroskop.       
Meskipun begitu perlu disadari bahwa otot rangka dapat berfungsi tanpa usaha secara sadar (misalnya, mempertahankan posisi kepala). Ada kalanya lebih umum untuk menyebut otot rangka sebagai otot bercorak. Namun jenis otot tersebut akan dikatakan otot jantung juga bercorak, dan hal ini dapat membingungkan, sehingga kecenderungan akhir-akhir ini adalah untuk menghindarkan penggunaan nama ini (Cormack 1994).
         Jaringan otot dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu jaringan otot polos, jaringan otot lurik dan jaringan otot jantung. Jaringan otot polos mempunyai            serabut-serabut (fibril) yang homogen sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak polos atau tidak bergaris-garis. Otot polos berkontraksi secara refleks dan di bawah pengaruh saraf otonom. Bila otot polos dirangsang, reaksinya lambat. Otot polos terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, saluran pernafasan (Anonim 2012).
          Otot polos tersusun oleh sel-sel yang berbentuk kumparan halus, masing-masing dengan satu nukleus yang yang terletak ditengah, berbentuk oval dan mempunyai fibril-fibril homogen. Sel-sel tersebut tersusun dalam lapisan-lapisan yang diikat dengan jaringan pengikat fibrosa. Otot biasanya terdapat pada alat-alat dalam tubuh vertebrata, diantaranya pada dinidng saluran pencernaan, pembuluh darah, dan saluran-saluran pernafasan (Radiopoetro 1996)
          Sel-sel otot kerangka (yang juga disebut serat-serat) adalah sel-sel silindris, berbentuk prisma yang rata-rata memiliki panjang 3 cm tetapi bervariasi dari sekitar 1 mm pada otot stapedius sampai lebih dari 4 cm pada otot-otot panjang anti-gravitasi, seperti Gluteus maksimus. Serat-seratnya bersatu dalam kelompok-kelompok menjadi berkas-berkas yang disebut fasikuli (fasciculi) yang beraneka ragam dalam ukurannya. Mereka member butiran-butiran kasar pada irisan melintang dari suatu sosok otot besar. Masing-masing sel dalam suatu berkas menempel pada selubung jaringan penyambung yang membungkus (investing connective tissue sheath) tetapi tidak saling menempel. Mereka melakukan kontraksi secara terpisah dalam reaksi terhadap masukan dari masing-masing saraf motor mereka. Sebuah neuron motor tunggal melakukan kontak dengan beberapa sel otot, yang jumlahnya bervariasi dengan jenis ototnya dari hanya beberapa pada otot mata yang terkontrol secara halus sampai beberapa ratus pada otot-otot        massa-aksi yang besar dan kuat (gluteus maximus). Neuron-neuron da serat-serat otot yang bersangkutan disebut motor unit (Bevelander 1979).
         Otot jantung hanya ditemukan dalam dinding jantung dan vena besar yang memasuki jantung. Keistimewaan fungsional otot jantung adalah kemampuannya untuk berkontraksi secara ritmis dan secara terus menerus sebagai akibat dari aktivitas sel otot jantung yang berpautan. Secara morfologi, otot jantung dpat dibedakan dari otot kerangka. Dalam beberapa hal struktur halus otot jantung sama dengan otot kerangka, khususnya mengenai hubungan antara miofilamen halus dan miofilamen tebal, sehingga lempeng-lempeng yang tampak pada myofibril tidak berbeda pula. Perbedaan yang tampak pada pengamatan dengan mikroskop elektron yaitu susunan sarkoplasmik retikulum dan mitokondria yang tidak teratur sehingga berkas-berkas miofilamen yang membentuk myofibril tidak disusun secara teratur sehingga berkas-berkas myofibril tidak sama. Selain itu mitokondria lebih panjang dan lebih banyak. Kadang-kadang mitokondria menempatisatu sarkomer (Gunarso 1999).
          Seluruh otot dibungkus oleh sebuah selubung jaringan ikat padat biasa disebut epimisium. Pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf masuk dan keluar otot dari epimisium melalui sekat-sekat fibrosa yang meluas ke dalam otot dan mngelilingi fasikel (berkas) serat ototnya. Sekat ini merupakan perimisium. Menyatu dengan perimisium, lembaran jaringan ikat halus meluas di antara masing-masing serat otot dan membentuk endomisium. Endomisium mengandung banyak kapiler dan serat saraf yang memasok serat otot. Pada setipa ujung otot, unsure jaringan ikat berbaur ke dalam struktur jaringan ikat kuat yang menambat otot pada struktur yang ditariknya. Banyak otot yang berakhir dalam tendon yang tertanam pada tulang atau tulang rawan. Namun otot dapat pula memiliki jenis tambatan lain, misalnya aponeurosis, raphe, tambatan langsung pada periosteum, dan bahkan tambatan pada lapisan jaringan ikat padat biasa kulit (lapis retikulare dermis) (Cormack 1994).
          Bila suatu serat otot berkontraksi, ia menjadi lebih pendek dan lebar. Hal ini juga berlaku untuk setiap sakromer. Keterangan “filamen yang menyelip” (sliding filament) sekarang telah diterima secara umum sebagai mekanisme yang bertanggung jawab untuk kontraksi otot. Pada dasarnya, mekanisme ini melibatkan suatu perubahan dalam kedudukan relative dari filamen-filamen aktin dan myosin (Bevelander 1979).
           Kontraksi otot diatur oleh konsentrasi ion kalsium dalam myofibril. Peran utama retikulum sarkoplasma ialah untuk mengatur konsentrasi ion kalsium di dalam myofibril. Kadar ion kalsium ini yang menentukan apakah aktin akan berinteraksi dengan myosin. Protein membrane integral utama dari reticulum sarkoplasma ialah enzim adenosine trifosfatase (ATPase) tergantung Ca2+ + Mg2+ memakai energy yang disediakan oleh adenosine trifosfat (ATP), enzim ini memompa ion kalsium dari myofibril ke dalam lumen retikulum sarkoplasma, tempat mereka ditampung bilamana serat otot tidak sedang berkontraksi. Setelah ion-ion ini memasuki retikulum sarkoplasma, mereka terikat pada protein pengikat kalsium, yang semula merupakan protein membran porifer (ekstrinsik) yang disebut kalsekuestrin (Cormack 1994).



BAB III
METODOLOGI

A.      Waktu dan Tempat
         Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum :
Hari /Tanggal : Kamis, 1 Maret 2012
Waktu             : 13.00-Selesai
Tempat           : Laboratorium Zoologi Biologi FMIPA UNTAD

B.       Alat dan Bahan
         Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu:
a.      Alat
1.      Mikroskop
2.      Buku gambar
b.      Bahan
1.      Jaringan otot jantung
2.      Jaringan otot lurik
3.      Jaringan otot polos

C.      Prosedur Kerja
1.        Menyiapkan bahan (preparat)  yang akan diamati yang terdiri dari jaringan epitel squamosum, jaringan epitel silindris, dan jaringan hyalin kartilago.
2.        Mengamati bagian–bagian morfologi dari preparat jaringan dengan menggunakan mikroskop.
3.        Mengamati dan mengidentifikasi bagian–bagian morfologi dari preparat jaringan yang digunakan.




BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Pengamatan
No
Gambar
Keterangan

Jantung.jpg
Otot jantung
1.        Serat melintang
2.        Inti sel dipinggir banyak
3.        Saraf tak sadar
-       Rangsang lambat
-       Tidak mudah lelah


Otot lurik.jpg
Otot lurik
1.        Serat melintang
2.        Sel dipinggir
3.        Saraf sadar
-       Mudah lelah





Polos.jpg
Otot polos
1.        Inti sel ditengah (satu)
2.        Serat gelendong
3.        Saraf tidak sadar
-       Rangsang lambat
-       Tidak mudah lelah






B.       Pembahasan
          Pada pengamatan pertama jaringan otot jantung, jaringan  ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung. Strukturnya menyerupai otot lurik,meskipun begitu kontraksi otot jantung secara refleks serta reaksi terhadap rangsang lambat. Otot jantung tersusun dari sel-sel otot yang mirip dengan otot lurik namun otot jantung mempunyai percabangan. Sel-sel otot jantung mempunyai banyak inti . Otot jantung bekerja secara teratur, tidak cepat dan tidak mengikuti kehendak kita. Otot jantung merupakan otot yang mempunyai keistemawaan yaitu bentuknya lurik tetapi bekerja seperti otot polos yaitu di luar kesadaran atau di luar perintah otak. Kerja otot ini dipengaruhi oleh saraf autonom. Otot jantung membentuk dinding jantung sehingga jantung bekerja seumur hidup manusia. Kerja otot jantung tidak dipengaruhi kehendak kita. Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung. Komponen  penyusun otot jantung terdiri dari  serat melintang, inti sel di pinggir yang merupakan komponen terbesar penyusun sel, saraf tak sadar. Fungsi otot jantung adalah untuk memompa darah ke luar jantung.
          Pada pengamatan kedua  yaitu otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja di bawah kesadaran, sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai banvak inti. Otot rangka dapat berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali - kali. Otot rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia super fasialis. Komponen-komponen otot lurik terdiri atas serat melintang. Sel dipinggir (banyak), saraf sadar dan mudah lelah. Serat melintang yang bersifat heterogen, serat-serat ini dapat disebut myofibril yang merupakan penyusun utama otot lurik, miofibril ini pada setiap seratnya tersusun atas benang-benang protoplasma dan inti. Fungsi dari jaringan otot lurik adalah melindungi rangka dari benturan yang keras sehingga rangka tidak mudah mengalami cedera.
          Pada pengamatan ketiga yaitu otot polos  terdiri dari komponen-komponen yaitu inti sel ditengah, serat gelendong, saraf tidak sadar. Otot polos terdapat pada organ dalam, maka sering pula disebut otot dalam. Sel-sel otot polos tampak berbentuk gelendong dengan kedua ujungnya meruncing. Sel otot polos hanya memiliki satu inti sel yang terletak di tengah sel, kerja otot polos tidak dipengaruhi oleh kehendak kita. Artinya, otot polos tidak bekerja secara otomatis tanpa perintah dari otak. Proses pencernaan makanan yang melibatkan kerja otot polos akan berlangsung tanpa diperintah otak. Oleh karena itu, otot polos disebut pula otot tak sadar, karena gerakannya tidak kita sadari. Gerakan otot polos lambat, tetapi teratur dan tidak cepat lelah.



BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.        Otot lurik berbentuk panjang-panjang, intinya banyak dan terletak di pinggir-pinggir sel, bekerja secara sadar tetapi tidak tahan kelelahan.
2.        Otot polos berbentuk gelendong, intinya hanya satu dan terletak ditengah, gerakanya lambat dan bekerja secara tidak sadar , dan tahan kelelahan.
3.        Otot jantung berbentuk panjang-panjang, bercabang-cabang (adanya garis-garis melintang), intinya hanya satu dan ada disetiap sel otot jantung (menyebar), bekerja secara tidak sadar, dan tahan kelelahan.
4.        Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan organ-organ tubuh.
B.       Saran
          Pada saat praktikum praktikan lebih memperhatikan lagi agar tidak terjadi kesalahan kecil yang dapat mempengaruh hasil dari pengamatan
                                



Daftar Pustaka
Anonim. 2012. Biologi. Http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/ Biologi. Diakses tanggal 2 Maret 2012 jam 19.00 WIT
Bevelander, G. 1979. Dasar-Dasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta. Erlangga : 460 hlm.
Campbell, N A. 2004. Biologi Edisi kelima Jilid III. Erlangga. Jakarta
Cormack, DH. 1994. HAM Histologi Jilid Satu Edisi Kesembilan. Jakarta. Binarupa  Aksara
Gunarso, W. 1999. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta. Erlangga
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta. Erlangga
http://id.wikipedia.org/wiki/Otot. Diakses tanggal 2 Maret 2012 jam 19.05 WIT


No comments:

Post a Comment